The spirit of sharing

Kesempatan yang sangat besar yang aku dapatkan ketika aku mulai berkata-kata tentang Paryasop, dan semua mimpi, impian dan cita-cita yang akan aku keluarkan dari dalam pemikiran yang sangat sederhana ini.

Berbicara tentang Soposurung, mungkin tidak aka nada habisnya buat aku, mungkin demikian juga dengan kita semua. Tentang semua kisah yang menarik yang telah kita lalui di asrama dan masa-masa kita kuliah. Tentang adik kelas yang terlihat begitu cantik ketika berjalan anggun di sepanjang selasar di depan majalah dinding (pengalaman pribadi, tetapi bukan pribadiku). Tentang senior yang ketika di asrama membentak-bentak aku dengan gagah, namun kini aku berbagi secangkir kopi dengannya (peace buat bang Indra), tentang lidah Batak ini yang dengan lugas berkata “dingin kali pun, sampe menerus” (menerus = manorus). Tentang beratnya kelopak mata ketika pelajaran sosiologi mulai diperdengarkan (alhasil aku pun di keluarkan dari kelas karena ngantuk). Tentang banyak hal, termasuk tentang semangat kita belajar demi lulus di ITB (satu-satunya institut di pulau jawa yang aku tahu).

Sekarang aku coba bercermin, mengapa bayangan sahabat-sahabatku selalu ada di cermin itu? Sering sekali mereka muncul dalam mozaik hidup ini. Mulai alumni yasop yang menjadi teman satu kost ku (na so bosan ra ahu holan na so kost dohot Lae Sitanggang). Ketika susahnya keuangan di akhir bulan, orang pertama yang kepikiran untuk tempat meminjam uang pasti anak Yasop. Ketika aku lagi suntuk di kuliah dan segudang kegiatan di kampus, teman aku berbagi cerita adalah anak Yasop. Ketika aku pergi, aku pasti akan teringat dengan teman-teman satu asrama.

Apakah ini hanya sekedar nostalgia?

Itulah yang aku anggap potensi besar Paryasop, ketika aku bisa berada bersama-sama dengan alumni Yasop yang lain, dengan nyaman aku bisa tampil apa adanya. Ketika aku bisa bermimpi dengan dan berbagi dengan sesama alumni yasop. Ketika aku bisa melangkah, kita melangkah bersama mewujudkan mimpi kita. Semangat inilah yang aku ingat selalu, yang akan menjadi potensi terbesar yang ada di komunitas ini. Semangat kebersamaan dan berbagi, SPIRIT OF SHARING. Sebab semuanya akan kita gapai bersama. Potensi inilah yang menjadi core dan semangat yang menjiwai karya kita, serta berangkat dari sinilah kita membentuk wajah Paryasop yang kita inginkan.

Seberapa pentingkah kekeluargaan itu?
Mungkinkah aku dapat makan dari sekedar kumpul-kumpul dengan anak Yasop?
Akankah Paryasop akan berkarya di Bonapasogit jika kegiatannya hanya bermain futsal saja?
Bilamana Paryasop punya badan usaha yang profit jika anggotanya hanya memikirkan Natal dan Paskah?

Benar, kekeluargaan akhirnya tiba dalam tahap “tak berguna” tak lebih dari sekedar nostalgia ketika diajukan pertannyaan-pertanyaan itu. Tapi diskusi kita tak sampai disini. Aku ajak kita membayangkan bangunan yang hanya berupa core dan lift di dalamnya. Demikianlah kekeluargaan itu. Jika potensi terbesar itu tak bisa dipergunakan, maka kekeluargaan itu pun tak ada artinya. Solusinya adalah, kita tinggal menempatkan semua angan dan impian kita di setiap lantai bangunan, sesuai dengan kapasitas anggota-anggota Paryasop. Katakan saja semisal sekretariat dan badan hukum di lantai dasar, mungkin di lobby. Di lantai dua terdapat konsultan struktur, di lantai tiga ada klinik bersalin, demikian sampai pada paling atas yang bisa di jangkau lift kekeluargaan itu. Di lantai paling atas itu terdapat konsultan arsitektur mungkin. Semuanya disusun sesuai dengan kebutuhan kita dan akan seperti apa fasade dan wajah bangunan paryasop itu akan kita bangun. Tak masalah lagi mengaksesnya, dengan mudah kita akan mencapi cita-cita kita bersama, meski diletakkan di lantai paling atas sekalipun, tak akan terasa sulit lagi.

Selanjutnya kita harus berkaca, sudah sejauh mana kondisi Paryasop saat ini?
Yang pertama dibahas adalah kondisi core dan semangat kekeluargaan itu sendiri. Jawabannya sudah ada potensi yang kuat disana, potensi akan menjadi core yang jauh lebih tangguh, tapi harus kita akui tak cukup tangguh untuk menyatukan hati kita. Masih ada saja yang belum berada dalam kondisi ideal yang kita harapkan (sedikit banyak). Artinya, lift dan core kekeluargaan yang aku maksudkan tadi belum bisa menjadi potensi utama untuk mewujudkan keinginan kita di lantai atas. Atau, masih ada saja orang yang ragu kalau lift ini tak cukup kuat untuk menjadi akses sirkulasi yang handal buat kita.

Tibalah saatnya aku dalam tahap kesimpulan dari pemikiran yang sederhana ini,
Melihat kondisi paryasop dengan bangunan core yang belum kuat, hal yang perlu dibenahi adalah kekeluargaan itu sendiri. Atau bisa saja kita secara pararel mencapai beberapa lantai di atas yang pasti tanpa lift, caranya adalah dengan menggunakan tangga, atau bahkan tangga kebakaran, atau bisa saja melalui crane. Poin pentingnya adalah, kita harus memulai dengan kerja keras. Konsep yang mantap tentang perencanaan lantai bangunan hingga lantai 20 atau lebih, akan terdengar seperti angin surga. Bukan salah, tapi kita harus focus. Kerja keras dan kondisi yang serba terbatas tentunya memiliki segudang variabel, dan salah satu yang paling penting adalah variabel WAKTU. Siapa yang bersedia bekerja keras untuk ini adalah pemimpin yang mengusung SERVANT LEADERSHIP.

Itulah yang kami tawarkan.

Memory Art by Watchson
Jakarta, 5 Oktober 2009

“mardongan roha dohot tikki”
“It’s time to share”
“together we are invincible”