Organisasi Kekeluargaan yang Efektif

“ Saat duitku tinggal selembar ongkos, ada sobatku yang menyodorkan lembar lainnya, ketika kiriman uang dari kampung mandeg, muncul saudaraku meminjamkan, kala hatiku sedih, teman-temanku itu mengajakku bernyanyi, Dia tak ada hanya waktu tertawa, kurang apa lagi yang membuatku tak bisa menyebutnya saudaraku, keluargaku?”.

Kami itu bertemu di sebuah asrama, di kaki gunung Dolok Tolong. Ketika malam hari hampir sama dinginnya dengan pagi, bahkan siang pun si angin berhembus, bertiup kering tapi tetap dingin. Di situ semua bermula, ada teman-teman satu angkatanku, ada kakak dan adik kelasku. Jelas di asrama itu senioritas kental sebagaimana pendidikan semi militer adanya. Namun tak bisa dipungkiri, benih-benih kekeluargaan mulai tertabur, meski ada carut-marut rasa, tapi makin tumbuh. Hingga makin terbukalah jalinan itu, ketika kami semua sama-sama berstatus perantau. Di sana, siapa yang kucari kalau bukan kakak yang dulu aku sapa hampir setiap waktu? Masih ingatkah mereka pada kami? Mungkin tak sedikit dari kita yang berpikir demikian saat mulai menjejakkan kaki di kota-kota tujuan kuliah bukan?

Seminggu, sebulan, setahun, bertahun-tahun ada ikatan yang tak sekadar saling kenal, hormat dan sapa. Makin dalam, saling bercanda, saling menggoda, berantem, hmmmm bukan tak pernah, tapi kala berdamai, wuihh nikmatnya. Itu ibarat gambaran keluarga. Inilah ikatan keluarga itu, Paryasop, yang mau tak mau diakui para alumninya sebagai wadah untuk saling bertegur , lebih jauh pernah berbagi hidup orang-orang yang ada di dalamnya. Sebagaimana keluarga, yang di dalamnya ada komponen yang saling memberi dan menerima, maka para anggota Paryasop itulah si komponen keluarga. Apakah keluarga ini sudah ideal? Tentu belum, maka inilah yang harus terus dipelihara sehingga makin hangat dan membawa dampak bagi “tetangga-tetangganya”.

Tak serta merta sebagaimana keluarga akibat ikatan darah dan daging, secara profesional maka Paryasop harus diurus untuk bisa bergerak, dari dan untuk para anggota Paryasop dan untuk orang di luar sana. Seorang yang mau menggerakkan, pemimpin yang mau berinisiatif meskipun sadar harus lelah untuk memulai langkah, ini yang dibutuhkan. Yang membenahi adalah tugas semua, memberi tugas semua tapi sebagai wadah yang juga diharapkan profesional tanpa menghilangkan kekeluargaan, wajar adanya pemimpin. Kata orang bijak, siapa yang mau jadi pemimpin hendaknya dia melayani? Karena leadership tak sama denganbossy. Terutama, dalam ikatan yang menginginkan nuansa keluarga, maka figur seorang ayah, yang mau berbuat duluan, siap dikritisi, sebisanya memperhatikan ( dalam kapasitasnya ), punya arah untuk keluarganya. Seperti itulah Paryasop.

Kalau soal Potensi?

Keluarga Paryasop ini punya sejuta potensi. Lihat saja alumninya yang berkarya di berbagai bidang? Belum lagi bakat-bakat tersembunyi yang tak diekspos selama ini. Sebagai satu keluarga, saatnya saling bangga saat bagian dari kita punya potensi yang masing-maisng kita dukung dan kembangkan. Seiring berjalan waktu, potensi itu akan makin matang dan efektif saat dilengkapi dengan potensi yang lain.

Lalu soal asrama Yasop, sewajarnya ada optimistis dari Paryasop jika wadah ini akan menjadi pengambil bagian dalam membiayai operasional misalnya. Tak ada yang tak bisa diwujudkan kalau kita duduk bersama, saling bertukar pikiran dan bersama meuwujudkan rencana untuk sebuah tempat, dimana wadah keluarga ini pertama kali tercetuskan.

Dalam Paryasop, berbagai potensi itu amat banyak, tak bisa diterakan seluruhnya. Bisa-bisa tak tidur semalaman untuk menelaah ini mungkin. Tapi ambilcontoh.Semisal alumni yang berjiwa pengusaha/businessman/entrepreneur maka Paryasop bisa membentuk sejenis Interesting Group atau Bidang Keahlian untuk kemudian alumni2 yang berminat menjadi Pengusaha dapat berdiskusi, berbagi dan saling berbagi informasi dan mengadakan usaha bersama. Demikian juga untuk alumni-alumni yang bergerak di bidang Accounting, Paryasop bisa membuat Interesting Group atau kelompok keahlian lain, itu konkritnya. Ada banyak potensi Paryasop, kalau ingin dilinikan maka bisa soal potensi untuk memajukan Tapanuli khususnya pendidikan dan soal produk aplikasi keilmuian. Bisa kita berbincang lebih dalam soal ini.

Sementara fungsi pengurus? untuk memfasilitasi, menjembatani dan menyatukan semua potensi yang ada untuk kemudian bisa menghasilkan output dalam bentuk Program atau kegiatan yang dapat berguna untuk internal (anggota paryasop) ataupun eksternal (diluar anggota paryasop).

Bapak ketua dewan pembina Yayasan Soposurung dulu suka berkata, “ anak-anak ini adalahcream de la cream!”. Benarkah demikian? Cream de la cream itu berasal dari bahasa Prancis, ibarat kepala susu, krim terbaik dan mahal, sari nomor satu. Memang bukan rahasia, kalau untuk mendapat satu tiket masuk ke Yayasan Soposurung, anak-anak itu punya gelar juara di sekolah, tanpa tanda merah di rapor SMP. Barangkali saringan demikian yang dikatakan cream de la cream Soposurung ditambah asahan di asrama ketika SMA kemudian dipoles lagi di perguruan tinggi dan di dunia kerja. Miris, kalau seandainya istilah itu hanya pencitraan. Sekadar kata-kata. Cream de la cream itu bukan untuk berpongah diri tapi sebagai inspirasi untuk mendorong semangat anggota Paryasop untuk menunjukkan kebolehannya dan menjadi berkat bagi orang lain. Cream de la cream itu bukan satu. Tapi Paryasop, kesatuan yang melakukan sesuatu itu dengan ikhlas, bukan si X, Y atau Z. Kita bersama, kita bisa.

Refleksi Penutup

Mengetahui dengan tepat potensi yang ada, merencanakan dengan baik apa yang ingin dicapai, dan dengan penuh rasa syukur memberi melalui karya-karya, itulah yang kemudian akan menjadikan semuanya bermakna.

Mengutip “If you have only one smile in you give it to the people you love [Maya Angelou]” dan“Janda ini memberi dari kekurangannya bahkan ia memberi seluruh nafkahnya.”[Lukas 21:4] adalah ungkapan totalitas yang tidak memandang posisi di atas dalam kelayakan memberi.

Sebesar apapun karya yang mungkin dikerjakan PARYASOP, mungkin itu hanya dapat disamakan dengan  setetes air di tengah samudra. Namun, Bunda Teresa (1910-1997) pernah berkata: ““ kita berpikir pekerjaan kita seperti sebuah tetesan air di tengah samudra, tetapi samudra akan berkurang karena ada setetes air yang hilang itu”

Karena itu, tidak ada alasan untuk tidak berkarya. Kecil besar tidak menjadi masalah. Yang penting didasari ketulusan dan saling pengertian dalam keluarga yang saling menyayangi.

It’s time to Give.

Horas

Eko-Ezra dan Tim