“Refleksi Kecil”
Ketika masih berstatus siswa di asrama Yayasan Soposurung, saya mempunyai sebuah pengalaman yang sangat menarik. Ketika itu saya kelas dua. Seperti kebiasaan sehabis izin bermalam, setiap siswa selalu membawa perbekalan untuk satu-dua minggu kedepan, seperti susu kaleng/kotak, gula, semir, buah dan sebagainya. Hari itu hari minggu, saya dengan jaket dan topi IB sedang berbelanja ke pasar Balige. Di satu toko, saya membeli perbekalan-perbekal an tersebut, saat hendak membayar si pemilik toko berkata kepada saya, “Par-asrama do ho?”, spontan saya menjawab, ” ido nantulang!”. Sambil memberikan uang kembalian belanjaan saya, nantulang itu menimpali, “annon, molo nga gabe menteri ho, tu son ho annon muse belanja da?!”. Pada saat itu, saya tidak terlalu menanggapinya serius, saya hanya tersenyum dan berpikir si nantulang itu hanya sekedar bercanda saja.

“Refleksi Besar”
Banyak pengamat yang mempertanyakan keputusan Presiden Terpilih sekarang pada Pilpres kemarin untuk menggandeng Prof. Boediono sebagai Calon Wakil Presiden. Selain tidak merepresentasikan partai politik (yang adalah motor utama penggerak massa), juga belum banyak dikenal masyarakat umum, kecuali sebagai mantan menteri dan Gubernur BI. Oleh capres/cawapres lainnya, pemilihan Cawapres Prof. Boediono justru dilihat sebagai ‘titik lemah’ pasangan bernomor urut 2 tersebut. Ternyata, setelah melalui proses Pemilu yang cukup ‘menegangkan’ , mereka berhasil memenangkan Pilpres 2009 dengan jumlah suara yang cukup mutlak. Terlepas dari semua kontoversi Pemilu yang ada, dari contoh di atas saya ingin menarik beberapa poin penting; Pertama, Saya yakin, demikian juga yang lain, Presiden terpilih menyadari bahwa pemilihan Prof. Boediono akan menjadi ‘kontroversi’ khususnya bagi partai-partai koalisi, termasuk juga masyarakat umum. Padahal tanpa disadari unsur kontroversi ini yang kemudian, secara langsung ataupun tidak, yang ‘menaikkan’ citra/poling Prof. Boediono. (sudah lumrah di negara kita tercinta ini, semakin kontroversi citra seseorang, maka akan semakin naik nilai jual seseorang tersebut. Sungguh aneh!!) Kedua, Presiden terpilih dengan mesin politiknya sadar dan memahami betul bahwa pemilihan Prof. Boediono akan menjadi nilai tawar yang kuat bagi partai politik koalisi dalam menjalankan program-program pembangunan pemerintah, yang seharusnya, pro rakyat. Ketiga, jika sendainya Pasangan yang terpilih bukan Pasangan Nomor urut Dua, Prof. Boediono tidak akan terlalu berbeban moral, karena sejak awal Prof. Boediono tidak mempunyai keinginan (baca: ambisi) untuk menjadi Wapres.

“Ultimate Goals” dan “Short Goals”
Lalu kemudian apa? bagaimana? hubungan antara kedua refelksi tersebut dengan judul pendapat pribadi ini, yang sepertinya mengarah ke ‘kontoversi’ juga.
“Refleksi kecil” diatas adalah ‘ultimate goals’ dari masing-masing alumni Soposurung (setidaknya saya secara pribadi) dan “Refleksi Besar” tersebut adalah ‘shorts goals’ Paryasop (bukan alumi Yayasan Soposurung secara pribadi-pribadi) . Dengan menggunakan kalimat sederhana, “ultimate golas’ saya secara pribadi selaku lulusan Yayasan Soposurung adalah untuk membangun dan mengembangan Bona Posagit, sekuat dan sebatas upaya serta daya yang sekarang/nanti saya miliki”, sedangkan “short goals’ Paryasop adalah untuk membangun ‘citra’ dan ‘daya tawar’ Paryasop sebagai sebuah organisasi.

Kemudian, bagaimana jika ‘tujuan utama’ dan ‘tujuan kecil’ ini digabungkan. Idealnya, “dalam satu tahun, di Bona Pasogit akan berdiri sebuah perpustakaan umum yang memuat semua jenis bahan bacaan serta mampu melayani ratusan jumlah pelajar ataupun masyarakat, atau mungkin, dalam beberapa tahun ke depan dolok tolok dan gunung-gunung sekitarnya akan kembali berwarna hijau lagi, karena sudah ditanami pohon-pohon baru.”
Tapi kondisi ideal ini akan mungkin/bisa terwujud apabila, ” Paryasop (sebagai sebuah organisasi) mampu mewadahi alumni yasop (sebagai individu yang memiliki tujuan), dimana ‘tujuan utama’ masing-masing anggota melebur menjadi satu dan kemudian berubah menjadi tujuan utama organisasi, dengan mengesampingan ‘kepentingan pribadi’ dan melandaskan hubungan yang terbangun antar masing-masing anggota adalah hubungan yang diikat oleh sebuah tali persaudaraan yang kuat serta saling mendukung.”

Dan hal inilah mungkin yang kita bersama harapkan dapat terwujud dalam PEMILU PARYASOP 2009 ini. Semoga!!!

Horas.

Martogi Harahap
“A Deo Victoria”