Pada malam Natal sebelas tahun yang lalu, anak-anak perempuan kami
memberikan hadiah yang sangat istimewa. Begitu istimewanya hadiah
itu sehingga sampai sekarang tetap menjadi berkat dari tahun ke
tahun.

Julie dan Jennifer masing-masing berusia enam dan delapan
tahun.
Anak laki-laki kembar kami, John dan Jeremy, belum genap berusia dua
tahun. Saya ingat, waktu itu saya merasa lelah. Anak kembar kami
terus-menerus meminta perhatian. Namun, saya masih dapat mengerjakan
tugas-tugas yang biasa saya lakukan pada Hari Natal. Pohon Natal
yang tinggi sudah
selesai dihias, hadiah-hadiah sudah dibungkus
rapi. Makanan sudah disiapkan. Pintu juga sudah dihias. Hadiah untuk
anak-anak sudah dipilih dengan teliti.

Saya lelah, tetapi gembira. Julie mencegat saya di dapur. “Bu,
Jennifer dan saya mempunyai hadiah untuk Ibu dan Ayah. Tetapi hadiah
itu bukan hadiah biasa yang dapat dibungkus. Kami ingin Ayah dan Ibu
duduk memangku adik-adik supaya kami dapat memberikan hadiah itu.”
Sebenarnya masih ada yang harus saya kerjakan, dan saya tidak mau
duduk-duduk pada waktu itu. “Ayolah, Bu,” Julie memohon, “hanya
beberapa menit saja.” Saya mengalah dan memanggil suami saya.
Perlu
usaha yang cukup keras juga supaya kedua anak kembar kami dapat
duduk tenang di pangkuan. Tetapi akhirnya kami siap. Julie dan
Jennifer berdiri dengan gugup di dekat tungku, saling berpegangan
tangan. Mereka memakai baju panjang flanel kepunyaan nenek berwarna
merah, dan memakai topi kecil
penutup debu yang sesuai. “Sebelumnya,
lampu-lampu harus dimatikan,” kata Julie dengan suara yang
mengundang rasa ingin tahu. “Kami hanya ingin lampu pohon Natal itu
yang bersinar,” kata Jennifer menjelaskan.

Dengan pandangan lurus ke depan, mereka
menyanyikan lagu “Malam
Kudus”. Lalu Julie mendeklamasikan sebuah puisi tentang kasih Allah.
Setelah itu, Julie berkata kepada ayahnya, dengan nada malu-malu,
“Maukah Ayah membacakan cerita Natal dari Alkitab tentang kelahiran
Yesus? Guru Sekolah Minggu kami membacakannya hari Minggu yang
lalu.”

Jerry  mengambil Alkitabnya dan membacakan cerita itu, ia mendekati
pohon Natal supaya dapat melihat dengan jelas. Kami semua
mendengarkan. Bahkan kedua anak kembar kami juga diam dan duduk
dengan tenang. Setelah Jerry selesai membaca, Julie berkata sangat
pelan sampai kami hampir tidak dapat mendengarnya, “Sekarang
dapatkah kita berdoa bersama?”

Kami belum pernah mengadakan kebaktian keluarga, karena itu kami
ragu-ragu bagaimana memulai doa. Tetapi, meskipun begitu
kami satu
per satu berdoa bergantian. Pada saat itu saya menyadari sesuatu
yang istimewa terjadi dalam keluarga kami [Red; karena Guru SM!!].
Melalui hadiah yang diberikan kedua putri kami, kami belajar bahwa
kami dapat berdoa bersama. Jadi selama tahun-tahun berikutnya kami
tetap mengadakan
kebaktian keluarga, tidak hanya pada Hari Natal,
tetapi sepanjang tahun.

Hadiah pemberian kedua putri kami pada malam Natal itu merupakan
karunia iman. Sejak itu hadiah tersebut membuat kami bertumbuh dan
menopang keluarga kami. Hadiah itu merupakan
pemberian yang tetap
menjadi berkat.

Sumber:
Judul Buku   : Kisah Nyata Seputar Natal
Judul Artikel: Rahasia Memberi dengan Sukacita
Pengarang    : Marion Bond West
Penerbit     : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1998

Kakak, abang, teman-teman dan adik-adik kami, jangan lupa kita punya acara natal bersama yang akan diadakan pada :

Hari/ Tanggal : Sabtu/ 13 Desember 2008
Pukul               : 18.00 ( 6 sore WIB )
Tema               : It’s Time to Give
Pembicara      : Pdt. Victor Mangapul Sagala D.Th
Tempat           : Gereja HKBP Sudirman Jakarta

Be there yah…dan please meneruskan publikasi ini ke milist angkatan masing-masing.
Regards
Panitia Natal 2008