Posted By SIB on Agustus 5th, 2008

Medan (SIB)

Seluruh alumni SMA Negeri 2 Plus Yayasan Soposurung (Yasop) tahun 2008 yang berjumlah 40 orang berhasil lulus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN)/UMB 2008. Prestasi itu cukup membanggakan masyarakat Sumut karena SMA Plus Yasop tercatat sebagai satu-satunya SMA di Indonesia yang seratus persen lulusannya diterima di perguruan tinggi negeri.
Dari daftar kelulusan UMB/SNMPTN alumni Yasop 2008 angkatan 16 yang diterima SIB, Senin (4/8) para lulusan itu sebagian besar masuk Universitas Indonesia (UI) sebanyak lima belas orang, Institut Teknologi Bandung (ITB) delapan orang, Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung empat orang, Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta, selebihnya Universitas Negeri Lampung (UNILA), Universitas Sriwijaya (UNSRI) dan Universitas Sumatera Utara (USU).

Robert Njo sebagai salah satu pengurus Yasop mengatakan, keberhasilan SMA Plus Yasop yang diasuh Letjend (Purn) DR TB Silalahi sebagai Ketua Dewan Pembina Yasop patut disyukuri dan dibanggakan masyarakat Sumut. Soalnya dari data yang ada hanya SMA unggulan di Balige itu yang siswanya seratus persen diterima di perguruan tinggi negeri tahun 2008 ini dari antara seluruh SMA yang ada di Indonesia.
Para siswa itu diterima Fakultas/Jurusan yang sulit ditembus seperti Teknik Kebumian, Teknik Pertambangan, Teknik Kimia, Teknik Perkapalan, Teknik Penerbangan, Teknik Sipil, Arsitektur, Teknik Elektro, Kedokteran, Teknik Informatika, Akuntansi, Hukum dan lain-lain.
Menurut Robert Njo, sejak awal pendiriannya SMA Plus Yayasan Soposurung membina siswa terbaik dalam satu kelas sebanyak 40 siswa. Hingga kini telah menghasilkan 16 Angkatan yang setiap tahunnya hampir seratus persen lulusannya berhasil menembus perguruan tinggi terbaik. “Memang setiap tahunnya lulusan SMA Yasop hanya satu atau dua siswa yang tidak masuk PTN dari setiap angkatan. Itu pun karena ada faktor non teknis misalnya siswa itu tidak fokus saat seleksi mungkin karena ingin masuk Akabri atau mendapat beasiswa ke luar negeri. Baru tahun 2008 inilah seratus persen lulusan kita masuk PTN,” ujarnya.

Prestasi itu menurutnya bisa diraih karena proses seleksi menjadi siswa sangat ketat baik dari sisi penguasaan mata pelajaran juga harus dites phisik dan psikologinya. Calon peserta yang bisa mengikuti seleksi adalah lulusan terbaik dari SMP-SMP yang ada di Sumut. Selain mendapat pelajaran tambahan, para siswa selama di asrama pun dibina mental dan phisik agar menjadi manusia yang cerdas, berkarakter, berdisiplin dan santun.

SMA Plus Yasop kemudian ditetapkan pemerintah menjadi SMA Nasional berstandar internasional sejak tahun 2007 lalu. Untuk itu pembenahan dilakukan antara lain menambah gedung asrama, gedung perpustakaan berikut ribuan buku dibeli dari Singapura agar berstandar internasional dan melengkapi laboratorium computer dengan teknologi IT atau multimedia. Kemudian mulai tahun 2008 lanjut Robert, Yasop menerima siswa sebanyak 80 orang.

Menyikapi harapan yang disampaikan Gubsu H Syamsul Arifin, SE kepada Letjend (Purn) TB Silalahi di Balige beberapa waktu lalu agar SMA Plus Yasop memberi kesempatan besar kepada siswa-siswa dari suku Melayu, Jawa atau non Batak, Robert Njo mengatakan, sebenarnya sejak beberapa tahun lalu pun ada beberapa siswa SMA Yasop dari berbagai suku.

Untuk itu para Bupati/Walikota di Sumut sebaiknya ikut mendorong dan membina calon siswa sejak dari SMP sehingga benar-benar siap saat mengikuti seleksi. “Karena pada prinsipnya seleksi dilakukan ketat dan fair. SMA Yasop hanya menyiapkan tempat terbatas dalam dua lokal tahun 2008 sejak ditetapkan pemerintah menjadi SMA nasional berstatus internasional,” katanya. (M-17/d)