Dikutib dari Harian SIB.

Rombongan tour operator dari biro-biro perjalanan wisata ternama dan para wartawan dari Singapura akan berkunjung ke TB Silalahi (TBS) Center, Balige hari ini, Selasa (13/5) yang rencananya mendarat langsung di Bandara Silangit, Siborong-borong dengan pesawat Silk Air jenis Boeing 737. Hal itu sebagai momentum menghidupkan kembali pariwisata ke Sumut khususnya kawasan Danau Toba

Selain mengunjungi museum Batak dan perkampungan Batak di TBS Center, para tour operator itu juga direncanakan berkeliling melihat objek-objek wisata di sekitarnya seperti Hutaginjang sebagai salah satu pemandangan terindah di dunia, Pulau Samosir hingga objek wisata Salib Kasih dan tempat pemandian air belerang yang ada di Tarutung. Hal itu disampaikan Robert Njo, staf khusus anggota Dewan Pertimbangan Presiden Letjend (Purn) DR TB Silalahi kepada wartawan di Medan, Sabtu (10/5).

Seperti diketahui, pendirian TBS Center adalah bentuk perhatian TB Silalahi melestarikan warisan budaya atau heritage Batak Toba agar tidak hilang ditelan jaman “Sejalan dengan itu, pak TB Silalahi berpikir menjadikannya TBS Center sebagai objek wisata agar dikunjungi masyarakat lokal dan turis-turis mancanegara. Hal ini supaya pembiayaan program pelestarian budaya dan perawatan TBS Center itu bisa mandiri. Soalnya pak TB juga tetap menganggarkan subsidi besar untuk anak-anak SMU Yayasan Soposurung dan untuk pengembangan dan penelitian pertanian di bona pasogit,” ujar Robert.

Menyadari kondisi kepariwisataan di kawasan Danau Toba yang kian hari kian sepi, makanya TBS Center bekerjasama dengan Pemkab di dataran tinggi Tapanuli, Badan Pariwisata Sumatera Utara (Bawisda) dan ASITA atau assosiasi biro perjalanan wisata Sumut memikirkan program bersama untuk menghidupkan kembali dunia pariwisata Danau Toba.

Dengan kehadirannya, para tour operator diharapkan segera membuat paket wisata untuk dijual ke masyarakat Singapura maupun Negara-negara tetangga bekerjasama dengan para biro perjalanan wisata Sumut. Para jurnalis Singapura itu pun diharapkan membantu mempromosikannya. “Sebagaimana diketahui, Singapura merupakan kota transit paling ramai dikunjungi berbagai Negara di dunia. Para tour operator itu nantinya akan mengalihkan turis mancanegara yang berkunjung ke Singapura untuk terbang ke Sumut,” ujarnya.

Langkah berikutnya, TBS Center dalam waktu dekat segera mengoperasikan kapal yang akan disulap menjadi restoran terapung yang cukup mewah. Kapal itu kata Robert nantinya akan membawa para turis mancanegara maupun domestik termasuk para pejabat asal Jakarta mengitari kawasan Danau Toba sambil menikmati jamuan makan di atas kapal.

Untuk itu Pak TB kata Robert mengharapkan seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah daerah terkait untuk mendukung hal itu. Karena sektor pariwisata itulah yang memberi dampak luas (multiplier effects) yang dirasakan masyarakat. “Contoh, pendapatan Kota Las Vegas di Amerika Serikat, Singapura dan Malaysia dari kompleks perjudian sebenarnya hanya menyumbang 20 persen sebagai devisa negara yang dirasakan masyarakat. Yang lebih banyak adalah pariwisata sebesar 80 persen. Kalau turis ramai, jasa taksi, angkot, tingkat hunian hotel, restoran, para pedagang, seniman dan lain-lain akan bergeliat. Belum lagi komoditi pertanian daerahnya akan bergairah dengan meningkatnya pasokan makanan ke hotel dan restoran,” paparnya.

Untuk itu di kawasan Danau Toba dukungan yang perlu segera dibenahi katanya adalah penyediaan akomodasi yang bersih, sarana jalan diperbaiki dan Bandara Silangit akan dikembangkan lagi terutama terminal penumpangnya. “Prinsip pariwisata itu jangan susah ditempuh dan sebaiknya dekat dengan Bandara,” katanya.

Salah satu terobosan lainnya, kata Robert, Pak TB Silalahi akan membicarakan masalah pariwisata Sumut dengan Menteri Pariwisata dan Kebudayaan. Apalagi menurut informasi dari masyarakat pariwisata Sumut diketahui, kebijakan pariwisata tahun 2008, Sumut tidak lagi masuk dalam lima kota tujuan atau destinasi pariwisata di Indonesia. Padahal, Sumut merupakan daerah yang paling ramai dikunjungi turis di Indonesia setelah Bali.

“Informasi kita dengar, tahun-tahun lalu jumlah wisatawan ke Sumut rata-rata 500 ribu per tahun. Sekarang turun jadi rata-rata 150 ribu orang per tahun. Tapi itu pun masih di atas Jogjakarta. Tapi kenapa Sumut tidak masuk dalam lima kota destinasi pariwisata. Masalah ini akan dibicarakan pak TB khusus dengan Menteri Pariwisata,” ujarnya