Tulisan: Joly Sitanggang

 

“…takdir dari semua sistem di biosfer kita-mulai dari sel biologis hingga ekonomi-adalah

ber-evolusi menuju keadaan alamiah antara teratur dan chaos,

sebuah kompromi yang dashyat antara hal yang terstruktur dan hal yang mengagetkan

(Stuart Kauffman,1995)

“… jika perubahan adalah keniscayaan zaman, tentu tidak ada sangkalan apabila organisasi harus berubah dan dirubah, baik struktur maupun kulturnya yang sama-sama kita anggap pantas untuk dirubah….”

1. Pengantar

Yayasan Soposurung (Yasop) didirikan atas dasar kesadaran sejumlah tokoh-tokoh bonapasogit yang sukses di perantauan tentang arti penting pendidikan manusia Indonesia, dalam hal ini khususnya pendidikan manusia Bonapasogit Batak. Pendirian lembaga ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan bonapasogit untuk menghasilkan manusia-manusia cerdas yang mampu meraih pendidikan Perguruan Tinggi dengan latar belakang kemampuan ekonomi yang relatif miskin, meningkatkan rasa cinta generasi muda terhadap kebudayaannya dalam hal ini kampung halaman-bonapasogit sebagai salah satu identitas bangsanya. Singkat kata Yasop diharapkan mampu menciptakan generasi muda yang berpendidikan yang memiliki kepedulian untuk mengembangkan kehidupan bermasyarakat di Indonesia khususnya di tanah Bonapasogit Batak.

Hal inilah yang mendorong lahirnya sebuah organisasi alumni (PARYASOP) yang dideklarasikan pada tanggal 4-6 November 2005 di Balige, Toba Samosir. Sebuah organisasi yang mewadahi ikatan persaudaraan alumni Yasop yang menjadi penerus tongkat estafet perjuangan pendahulu kita. Organisasi alumni yang menjadi tulang punggung dalam membina, menumbuhkan, dan mengembangkan alumni Yasop ke arah kematangan berfikir, integritas, dan peningkatan kualitas di segala bidang (Tujuan Paryasop Internal point 2).

Berbicara mengenai Paryasop sedikit banyak memiliki persamaan dan perbedaan dengan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat heterogen, mulai dari suku, agama, dan bahasa. Sejarah membuktikan keberagaman ini juga terdapat dalam tubuh Yasop dan Paryasop. Hal ini bisa dilihat dari komposisi siswa-siswi asrama Yasop, ada yang beragama Kristen, Islam, Budha, Hindu dan juga berasal dari berbagai suku misalnya suku Batak, Jawa, Chinesee, dan sebagainya. Anggota Paryasop menempati lokasi yang tersebar di seluruh Nusantara dengan bidang profesi dan keahlian yang cukup beraneka ragam. Jika dibandingkan dengan Indonesia, Paryasop merupakan sebuah model sederhana dari Negara Kesatuan Republik Indonesia ditinjau dari keberagaman latar belakang sejarah berdirinya. Paryasop telah menjadi rumah yang anggota keluarganya sangat beragam. Apakah kesatuan alumni Yasop dalam Paryasop berhenti dengan alasan kesamaan almamater saja? Apakah ada motif rasional yang lain yang mendorong terjadinya hubungan bersama demi kesejahteraan bersama dalam wadah Paryasop? Bagaimanakah dinamika sistem kesatuan alumni Paryasop? Bagaimana generasi angkatan muda alumni Yasop memandang Paryasop sebagai wadah yang mempersatukan? Mungkinkah suatu saat kita akan mengalami musibah runtuhnya kontrak sosial dalam ikatan persaudaraan yang diperjuangkan pendahulu-pendahulu kita?

Hal ini yang menjadi pertanyaan-pertanyaan yang mesti mampu kita jawab bersama dan dipahami dalam mendorong pertumbuhan organisasi. Paryasop sebagai organisasi alumni yang terbilang masih seumur jagung seharusnya sudah saatnya memikirkan kematangan dan pengembangan diri sendiri sejak dideklarasikan pada 4-6 November 2005. Harus diakui bahwa hal ini adalah permasalahan yang cukup mendesak dan layak untuk didiskusikan mengingat kemandekan program kerja organisasi yang terkesan melempem. Jika kita belum mampu mendefinisikan arah gerak Paryasop, maka pembahasan seperti organisasi berbadan hukum dan pengadaan kesekretariatan belum waktunya untuk dibahas dalam mencari sebuah kesepakatan yang terkesan tergesa-gesa dan prematur.

Lahir dan terbentuknya organisasi alumni dalam ikatan Paryasop dan kemungkinan runtuhnya ikatan ini merupakan hal yang akan menjadi fokus utama dari tulisan ini dengan tujuan agar langkah-langkah taktis yang diambil tidak menghambat pergerakan organisasi dan setiap elemen organisasi memahami secara spesifik terjadinya ikatan kerjasama (cooperation) yang memungkinkan munculnya tindakan bersama (collective action). Harus diakui keberagaman elemen Paryasop merupakan hal yang spesifik dan unik yang menjadi dasar asumsi dalam menetapkan fungsi-fungsi elemen organisasi. Secara kualitatif tentu kita bisa mengatakan bahwa heterogenitas (sebenarnya cukup homogen) Paryasop bisa menjadi pedang bermata dua, yakni sumber daya potensial organisasi, namun dengan penanganan yang buruk akan menjadikannya kondisi awal terjadinya konflik dan keruntuhan ikatan organisasi. Beberapa riset yang dilakukan oleh pengamat sosial ditunjukkan bahwa besarnya sebuah kekuatan kelompok berdasarkan atas kesamaan etnik, agama, atau ras merupakan sebuah parameter ancaman terhadap keutuhan sebuah negara (Addison et.al., 2001), dalam hal ini kita berbicara mengenai organisasi.

Melalui tulisan ini kiranya dapat menunjukkan bagaimana terjadinya sebuah kontrak sosial adalah hal yang muncul dengan sendirinya meski didalamnya terdapat elemen-elemen yang berbeda (heterogen) – dan bahkan cenderung non-kooperatif. Dalam setiap permainan kooperatif selalu ada sebuah kesepakatan dari tiap agen sebagai aturan yang disepakati bersama – dan hal inilah yang menghasilkan kerjasama dan tindakan bersama tiap pemain. Mengutip karya besar Thomas Hobbes (1962, 1998) dalam Leviathan, untuk menciptakan sebuah negara yang teratur dan berfungsi dengan baik dan aspiratif, harus dilakukan semacam kontrak sosial di antara tiap warga negara yang akan memberikan aturan yang jelas tentang hukuman dan juga apresiasi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dalam konteks global, yaitu kehidupan bernegara hal ini menjadi tidak tepat, karena sulit sekali membayangkan (tidak realistis) sebuah negara yang mampu mengatur, mengumpulkan, dan mengontrol seluruh elemen penyusun sistem sosialnya untuk menyusun sebuah kontrak sosialnya. Bagaimana sebenarnya kerjasama dan tindakan kolektif dapat muncul tanpa adanya kontrak atau aturan?

Dengan kata lain, kerjasama dapat timbul dengan sendirinya sedemikian sebagai sebuah karakter sosial. Penyebabnya menjadi sebuah spekulasi dan kajian yang menarik saat ini. Bagaimana elemen-elemen Paryasop dengan struktur heterogenitas memiliki kemiripan yang identik dengan NKRI dapat tumbuh berkembang, berangkat dari kerjasama antara individu yang dapat dimodifikasi menjadi tindakan kolektif. Lebih jauh dapat dikatakan bahwa kerja sama dapat terjadi tanpa kedaulatan dan kontrak sosial. Kerja sama timbul sebagai produk meta-kedaulatan tertentu yang berlandaskan manusia sebagai makhluk sosial dan sebagai bagian dari proses evolusi sosial manusia. Dan sebaliknya kemungkinan kehancuran kolektifitas (negasi dari kerja sama) dapat terjadi akibat faktor-faktor interaksi yang justru melawan sifat dari kontrak sosial itu sendiri.

Sejarah mencatat dan sangat sering diulang-ulang disebutkan bahwa salah satu faktor primer timbulnya rasa persatuan dan kesatuan di kalangan Indonesia adalah perasaan senasib dan sepenanggungan sebagai jajahan Belanda dan Jepang. Hal inilah yang menyebabkan ketika sarana informasi masih sangat terbatas duet Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta dengan cepat dapat diterima sebagai proklamator kemerdekaan oleh delegasi yang berasal dari kondisi geografis negara kepulauan. Analogi yang sama dapat kita digunakan untuk menganalisis organisasi Paryasop. Bahwasannya Paryasop berdiri atas dasar kesamaan almameter, perasaan senasib dan sepenanggungan tatkala digembleng dalam pendidikan asrama Yasop.

Saat ini terjadi berbagai kekecewaan publik atas legitimasi dan struktur organisasi Paryasop yang sering kali masih bersifat pendapat individu (belum bersifat delegatif, misalnya kekecewaan per angkatan). Hal ini perlu dicermati secara mendalam dan seharusnya menjadi umpan balik evaluatif bagi pihak-pihak yang berwenang untuk mencermati pandangan dan pencitraan Paryasop di mata generasi angkatan muda (publik yang berstatus mahasiswa). Jika tidak tentunya bukan tidak mungkin akan terdapat nilai-nilai ambang yang dapat mendorong runtuhnya kontrak sosial yang disepakati pada awal organisasi Paryasop terbentuk.

Dalam tulisan ini akan dibangun sebuah model yang diharapkan mampu menjelaskan lahirnya tindakan bersama sebagai generasi pembangun bonapasogit yang dituangkan dalam wadah Paryasop dan bagaimana pola dinamika organisasi ini secara evolusioner berkembang. Model juga sebisa mungkin diarahkan agar dapat menunjukkan bagaimana hubungan sistem pemerintahan Paryasop dan individu di dalamnya untuk menghindari munculnya reaksi-reaksi yang bersifat segmentasi dan segregatif yang dapat mengganggu ikatan kesatuan dan proses berjalannya struktur pemerintahan organisasi. Melalui paparan ini diharapkan terdapat refleksi yang terstruktur yang menerangkan permasalahan yang sedang atau akan terjadi.

2. Proses Terbentuknya Kontrak Sosial

Konstruksi bangunan model statik mengadopsi teori permainan yang secara lebih jauh dapat dikembangkan sebagai model dinamik dan komputasional (untuk hal ini dapat digunakan beberapa model evolusioner dan algoritma genetika – BFI, 2003). Model statik dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu masa sebelum terjadinya kontrak sosial dan masa sesudah terbentuknya kontrak sosial. Pada masing-masing sub-model terlihat bagaimana fungsi elemen berubah dan mengalami dinamika tertentu. Secara skematik dapat digambarkan :

gambar1.jpg


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Skematik Model Statik Evolusi Kontrak Sosial

(Working Paper BFI, 2003)

Individu-individu (generasi muda Paryasop) tergabung dalam kelompok-kelompok berdasarkan suku/etnis, agama, status mahasiswa dan non-mahasiswa, basis angkatan, dan wilayah. Setiap kelompok memiliki perwakilan atau delegasi yang akan mewakili anggota kelompoknya dalam melakukan interaksi dengan kelompok lain. Hubungan antara delegator dengan anggotanya adalah bersifat dua arah, anggota kelompok menyampaikan aspirasi kepada delegator dan delegator akan menghitung seberapa penting aspirasi tersebut untuk dijadikan keputusan kelompok. Proses sebaliknya juga berlaku yaitu delegator mencari aspirasi anggotanya, turun kebawah menjemput bola.

Cat : Permasalahan selama ini adalah belum adanya sistem perwakilan organisasi yang baku sebagai panduan untuk menggerakkan roda pemerintahan Paryasop.

Delegator dapat dianggap sebagai pemimpin kelompok dan memiliki pengaruh terhadap anggota kelompoknya, sehingga jika keputusan kelompok telah ditentukan maka masing-masing anggota kelompok akan menerima keputusan tersebut pada waktu itu. Proses ini akan terus berlangsung sehingga keputusan individu dalam setiap kelompok tidak semata-mata tergantung kepada dirinya sendiri tetapi juga dipengaruhi faktor dari luar yaitu kondisi kelompok yang terwakili melalui peran delegator.

Misalkan terdapat k kelompok, K = {G1, G2…. Gk} dengan masing-masing kelompok terdiri dari individu, Gj = {ij1…. ij(n)}, dan masing-masing kelompok memiliki delegasi dj di Gj sehingga dalam teori permainan yang mendasarkan pada dua pilihan keputusan, misalnya pi(t) menyatakan peluang individu memilih “bekerjasama” pada periode waktu t dan pd(t) menyatakan peluang delegator memilih “bekerjasama”, maka pengaruh delegator terhadap individu dalam anggotanya secara formal dapat dituliskan

untitled.jpg

Persamaan 1. Persamaan Tingkat Pengaruh Delegator terhadap Individu

(Working Paper BFI, 2003 hal.4)

dengan Od(t) menyatakan keputusan yang dihasilkan delegator, dan k konstanta yang menentukan tingkat pengaruh delegator terhadap individu, sebagaimana digunakan dalam (Sulaeman, 2000).

Hal yang perlu dicermati adalah “pengaruh delegator” sebagai konstanta k. Sebagai analogi kita dapat melihat sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, dimana fisik masyarakat terbagi dalam berbagai kelompok berdasarkan suku dan wilayah, pada saat itu pengaruh pemimpin kelompok (delegator, nilai k) begitu besar terhadap anggota kelompoknya dan pengaruh ini semakin besar dengan kehadiran Soekarno-Hatta. Seberapa besar nilai k juga menentukan bahwa pada t = tanggal(17-08-45), ternyata sebagian besar anggota kelompok menyetujui terbentuknya negara Indonesia merdeka.

Persamaan ini juga dapat membuktikan teori sosiologi psikologi massa, dimana kecenderungan kesadaran individu semakin menurun dalam kesadaran kolektif, dengan kata lain kesadaran individu dalam kelompok massa akan menyatu dan menyesuaikan diri dengan kesadaran kolektif/massa.

Cat : Bagaimana peran dan pengaruh nilai k (delegator) dalam tubuh paryasop selama ini? tentunya hal ini harus kita cermati lebih mendalam dan selayaknya dapat menjadi bahan diskusi kita lebih lanjut.

3. Evolusi kontrak sosial dan kemungkinan keruntuhannya

Tidak mengherankan ketika ex-KAYSB, ex-IAYSJ, dll memiliki nilai tawar yang lebih ketika menyampaikan ide dan gagasan terhadap pemerintah pusat Paryasop. Setiap kelompok (dengan basis wilayah, kompetensi, suku, agama, hobby, mahasiswa, non-mahasiswa dll) dalam tubuh alumni Yasop memiliki nilai tawar, nilai tawar ini adalah sumber daya, baik SDM, alam, dsb. Nilai sumber daya R merupakan perpaduan antara upaya eksploitasi E dan upaya mempertahankan/memperolehnya F, dan hubungan ini berbentuk linier (Addison et.al., 2001) yang dapat dituliskan

Ri = aiEi + biFi

Persamaan 2. Persamaan Sumber Daya

(Working Paper BFI, 2003 hal.5)

dengan ai dan bi menyatakan tingkat eksploitasi dan tingkat mempertahankan sumber daya Ri oleh kelompok-i. Pemerintah pusat sebagai pengelola Paryasop (hal ini juga dapat berlaku pada negara) akan mendapat keuntungan atau hasil bagi terhadap setiap sumber daya yang ada di setiap wilayahnya, sehingga nilai utilitas pemerintah pusat bisa dituliskan

Up = Yp – λR

Persamaan 3. Persamaan Utilitas Pemerintah Pusat

(Working Paper BFI, 2003 hal.5)

pendapatan pemerintah pusat sebagian dikembalikan kepada kelompok-kelompok dengan proporsi yang tidak sama. Sehingga pendapatan kelompok-G memiliki nilai utilitas

UG= YG GRG(1-β)

Persamaan 4. Persamaan Utilitas Pendapatan kelompok-G

(Working Paper BFI, 2003 hal.5)

selanjutnya sebagian pendapatan kelompok dibagikan kepada anggota kelompok dengan proporsi β, dengan nilai β = 1 menyatakan bahwa semua pendapatan hasil sumber daya yang diberikan pemerintah pusat akan diberikan seluruhnya/seutuhnya kepada anggota individu, sehingga nilai utilitas bagi agen-i menjadi sebesar

Ui = Yi + βi λG RG

Persamaan 5. Persamaan Utilitas Pendapatan Individu-i

(Working Paper BFI, 2003 hal.5)

Model sederhana diatas menunjukkan jalur pembagian sumber daya dari pemerintah pusat sampai level individu, sehingga individu dapat merasakan keuntungan dari keberadaan sumber daya pada wilayahnya meski proporsi tiap individu tersebut tidak sama. Model tersebut juga menunjukkan pola-pola hubungan antara pemerintah pusat-kelompok-individu.

Berhubung karena sifat organisasi paryasop adalah non-profit maka model diatas sangat sulit diimplementasikan, akan tetapi jika kita menganalogikan pembagian sumber daya diatas misalnya adalah “jasa”, maka bisa dianalisis pola-pola hubungan yang mungkin terjadi dalam organisasi Paryasop.

Dari model diatas dapat diamati bahwa tiap individu-i Paryasop akan menghadapi beberapa masalah :

  1. Pembagian proporsi yang tidak adil oleh pemerintah pusat Paryasop (UG) terhadap kelompoknya. Hal ini bisa kita lihat dari fenomena beberapa wilayah basis massa Paryasop sering sekali merasa tidak diperhatikan, misalnya wilayah Medan, sitolu-ama “DEL”, Jawa Tengah, Jawa Timur, Palembang, Jambi, dll.

Bagaimana mungkin seorang individu-i dapat memiliki “militansi” yang kuat (contoh : menyumbangkan “jasa”nya) terhadap Paryasop jika organisasi Paryasop tidak pernah memperhatikan individu tersebut? Justru penyikapan individu yang sering terjadi saat ini (mungkin kedepannya juga) adalah “penolakan” bekerjasama, “ketidakpedulian” anggota terhadap organisasinya.

Mari kita jawab bersama-sama, saya kira ada motif rasional lainnya yang bisa dibahas daripada sekedar menyampaikan gagasan berdirinya Paryasop hanyalah atas dasar kesamaan senasib sepenanggungan.

  1. Pembagian proporsi yang tidak adil oleh kelompok-nya melalui delegasi βi terhadap individu anggota kelompoknya. Hal ini bisa kita lihat adanya orang-orang dalam satu wilayah yang tidak merasakan keberadaan sumber daya kelompoknya, contohnya beberapa anggota Paryasop-Bandung merasa tidak diperhatikan oleh organisasinya, kenapa hal ini bisa terjadi? Jangan berharap setiap anggota kelompok wilayah Bandung dapat menyumbangkan waktu, tenaga, dan pikirannya akan tetapi Paryasop–Bandung tidak melakukan apa-apa terhadap individu tersebut.

  1. Gabungan masalah 1 dan 2.

Cat : Sebenarnya saat ini dan ke depannya, bagaimana cara kita memandang permasalahan pola-pola hubungan dalam tubuh Paryasop?

4. Analisis dan Diskusi

Model diatas termsuk model tindakan bersama tiga-level, yakni level individu atau anggota, level kelompok delegatif, dan level pemerintah pusat. Dari model tersebut terlihat bagaimana terjadi kontrak sosial yang direpresentasikan oleh sistem delegatif dari anggota kelompok ke pemimpin kelompoknya yang pada akhirnya akan membentuk konsensus berdirinya Paryasop.

Setelah terjadi kontrak sosial, kita melihat adanya tiga level utilitas yang terjadi, yakni utilitas individu yang membentuk pelayanan anggota, utilitas kelompok atau delegasi sebagai representasi dari individu, dan utilitas pemerintah pusat. Pada masing-masing fungsi utilitas tersebut terlihat bagaimana ketiganya saling mempengaruhi. Setelah Paryasop berdiri, keputusan dari masing-masing level aksi adalah permasalahan bagaimana membagi kekuasaan atas sumber daya (pada level pemerintah pusat dan delegasi) dan bagaimana aktifitas layanan publik yang dirasakan oleh individu sebagai anggota organisasi (pada level individu).

Dengan sendirinya, evolusi kontrak sosial menjadi sangat bergantung kepada aspirasi oleh individu kepada delegasi yang sampai kepada pemerintah pusat serta layanan publik yang dirasakan individu/anggota organisasi.

Jika delegasi tidak mampu merepresentasikan aspirasi anggota maka kekacauan akan terjadi dan kesinambungan organisasi akan bergerak menuju titik kritis. Pada titik kritis ini merupakan batas ambang ketika individu mulai berfikir untuk melepaskan diri dari kontrak sosial yang dibuat pada saat awal pendeklarasian berdirinya Paryasop.

Dari sini terlihat bahwa peran individu sangat penting dalam terjadinya tindakan kolektif kelompok dalam penentuan nasib kontrak sosial Paryasop di kemudian hari. Jika titik kritis mencapai batas ambang, maka dengan sendirinya kontrak sosial akan dibatalkan dan keutuhan serta stabilitas organisasi menjadi terancam. Untuk meredam hal ini, faktor-faktor layanan publik harus terpenuhi dan delegasi juga memiliki kekuatan di kelompoknya serta harus kooperatif terhadap pemerintah pusat. Ini merupakan faktor penting dalam Evolusi-Paryasop (apakah penguatan atau pelemahan) dari sebuah kontrak sosial dalam tubuh alumni Yasop.

Berdasarkan pengertian ini kita dapat memahami bahwa contoh pelemahan (hancurnya) kontrak sosial Paryasop adalah inefisiensi pemerintah pusat, seperti ketidakjelasan regulasi roda pemerintahan organisasi, layanan publik yang dirasakan anggota sangat minim, eksploitasi sumber daya yang tidak tepat dan sebagainya.

5. Beberapa catatan simpulan

Dari uraian diatas, kita dapat melihat bahwa kerja sama dan tindakan bersama (collective action) dalam perspektif lahirnya kontrak sosial bukanlah persoalan adanya pra-kontrak atau aturan kontrak sosial, karena pada realitanya kita telah melihat bahwa kontrak sosial dapat timbul dari representasi dengan adanya fungsi delegasi, yang direpresentasikan dengan adanya personifikasi delegasi yang membawa suara publik. Hal ini jelas sekali tercermin dalam sejarah kontrak sosial di Indonesia pada masa awal kemerdekaan dengan kondisi geografisnya sangat memerlukan peranan delegasi dalam pembentukan kontrak sosial. Bukan tidak mungkin dengan adanya fungsi utilitas delegasi ini akan membawa dampak yang positif bagi lahirnya pola-pola kerja sama dari agen-agen yang non-kooperatif pada awalnya. Dalam konteks yang lebih jauh kita dapat mengamati yakni bagaimana kontrak sosial paryasop ber-evolusi.

Melalui paparan ini, dapat juga terlihat dengan jelas bahwa pemerintah pusat Parysop memang sangat perlu memperhatikan keterhubungan individu dan sistem delegatif yang mungkin terbentuk. Dalam tubuh organisasi Paryasop jalur delegatif tidak bisa dipandang hanya berdasarkan basis kewilayahan, jalur angkatan, jalur legal formal legislatif yang terbentuk di AD/ART Paryasop. Akan tetapi jalur delegasi dapat berupa kelompok-kelompok kecil dimana individunya memiliki kesepakatan dan kesepahaman untuk mencapai tujuan tertentu, dapat berbasis kompetensi keilmuan, berbasis primordialis seperti etnis atau agama, berbasis hobby, berbasis status mahasiswa dan non-mahasiswa, dan sebagainya. Tinggal sekarang bagaimana pemerintah pusat Paryasop dapat melakukan manajemen pelayanan publik sebaik mungkin, memetakan pola sistem delegatif agar sistem delegasi anggota dapat terdeteksi pada jalur formal sehingga ikatan persaudaraan, perasaan senasib sepenanggungan dapat terbentuk secara rasional hingga ke level individu.

6. Confession dalam artian pengakuan atas dasar kesadaran

Pembuatan tulisan ini terinspirasi setelah membaca dan mengkaji berbagai jurnal yang dihasilkan Bandung Fe Institut (Research University on Complexity in Indonesia). Dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kata dan kalimat yang banyak mengandung kemiripan. Adanya kemiripan penggunanaan kata dan kalimat semata-mata sebagai akibat ketidaksempurnaan penulis terkait kemampuan, skill, dan latar belakang jenjang pendidikan, tanpa bermaksud menumbuhkembangkan mentalitas plagiatorisme. Pembuatan tulisan ini semata-mata hanya untuk mengembangkan cakrawala berpikir penulis, tidak untuk tujuan profit, dan sedikit usaha untuk berkontribusi pada perkembangan dan pertumbuhan sistem organisasi yang sinergis pada almamater Paryasop. Tulisan ini juga dibuat tanpa adanya dukungan finansial dari manapun, dan sebenarnya mengharapkan adanya dukungan finansial dalam pengembangan lebih lanjut agar tulisan ini dapat lebih aplikatif, orisinil, dan berbunyi.

Untuk informasi yang lebih lengkap terkait rujukan dan kepustakaan tulisan ini, anda dapat mengakses http://www.bandungfe.net/hs/kosos1.pdf

Bandung, 27 Februari 2008

….malam-malam panjang yang dingin ditemani kopi dohot sigaret ditambah nikmatnya akses internet gratis…