Dikutip dari Sinar Harapan, Kamis 24 Januari 2008

Oleh
Lia Sundah Suntoso

Menunjukkan citra yang berbeda pada berbagai pihak, apapun motifnya, jelas sudah menjadi ”makanan” sehari-hari, terutama jelang pemilu saat situasi politik makin memanas, pencitraan politik, atau tebar pesona jelas menjadi hal yang lebih signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Sangat menarik untuk melihat tayangan televisi yang paling laku pada saat ini (rating tertinggi) adalah tayangan-tayangan mengenai sakitnya Suharto. Momentum yang diciptakan oleh tayangan-tayangan ini bekerja sangat strategis bagi pencitraan politik keluarga Cendana, maupun kroni-kroni Soeharto yang juga secara bersamaan dicitrakan berada diambang pintu pengadilan.

Bukan hanya di Indonesia. Bush pun melakukan demikian meski masa jabatannya hampir berakhir. Publik AS terkesima menyaksikan reaksi Bush pada wawancara Jenna yang menelepon orangtuanya secara spontan ketika Bush berkata kepada si pembawa acara: “… katakan pada putriku bahwa aku mencintainya.” Pada sisi lain, Bush jelas-jelas dianggap memaksakan kehendak, ancaman atas perdamaian dunia, jelas-jelas bertanggung jawab atas perang melawan terorisme dengan cara-cara yang ekstrem.
Masih ingat Dasamuka, yang katanya mengobsesikan kekuasaan, kekuatan, mencerminkan kezaliman, namun ternyata juga membawa kemakmuran bagi rakyat kerajaannya? Jelas tidak nyaman membayangkan mengetahui, apalagi memiliki seorang teman, saudara, sahabat, bahkan pemimpin yang dasamuka. Yang menjadi masalah sebenarnya bukanlah kedasamukaan itu sendiri. Namun, harus diwaspadai adalah apabila akibat kedasamukaan itu jatuh korban.

Tidak perlu sampai dalam magnitude penjajahan sebuah bangsa, dalam bentuk sederhana kedasamukaan tetap hadir. Utamanya, pada lakon-lakon pejabat atau mantan pejabat yang diseret ke pengadilan kemudian pingsan atau bolos dengan alasan sakit sebelum kasusnya di-peti-es-kan.

Jelas sangat menarik untuk memperbandingkan buah pikiran yang tercermin dari panggung politik Indonesia, mulai dari konsistensinya, warna jaket partai yang digunakan, visi-misi yang diperjual-belikan, sampai lakon apa yang sebenarnya dimainkan dan topeng apa yang dipergunakan during showtime sesuai kebutuhan. Tokoh-tokoh datang dan pergi, dihujat dan dipuji.

Namun apa mau dikata. Manusia di-build-up dengan auto-pilot kompensatif untuk menonjolkan sisi yang ”putih” untuk menutupi sisi yang hitam, seperti tipp-ex, mungkin.

Ternyata, aplikasi pakem natural selection (Seleksi Alam) dan survival of the fittest (Darwin/ Herbert Spencer)—telah berevolusi menjadi muka tebal, hati hitam (Thick Face, Black Heart – Thick Black Theory) untuk selamat dan sukses dalam politik pada masa kini.

Penulis adalah anggota Bar Mahkamah Agung AS, pengamat Hukum Internasional