Bacaan: Lukas 4:14-21

Dalam perjalanan menuju Museum Seni Metropolitan di New York pada bulan Desember, saya berhenti sejenak untuk mengagumi pohon Natal yang menakjubkan. Pohon itu dihiasi boneka malaikat dan dasarnya dikelilingi oleh patung-patung dari abad ke-18 yang menggambarkan kelahiran Kristus. Jumlahnya hampir 200 patung. Di antaranya terdapat para gembala, orang majus, dan penduduk kota . Mereka memandangi palungan dengan penuh harap atau menatap para malaikat dengan takjub.

Namun, ada satu patung yang tampak berbeda dari yang lainnya, yaitu patung pria tanpa alas kaki, yang membawa beban berat di punggungnya dan menundukkan kepala. Hati saya tersentak. Pria ini seperti kebanyakan orang saat ini, yang sangat berbeban berat sehingga tidak dapat melihat Sang Mesias.

Natal dapat menjadi saat yang tidak menyenangkan bagi mereka yang menderita karena beban kerja yang berat, ketegangan dalam keluarga, dan kehilangan. Namun, patut diingat bahwa Kristus datang ke dunia ini untuk mengangkat kepala orang yang tertunduk karena beban berat. Yesus mengutip perkataan Yesaya untuk memberitahukan misi yang diberikan Allah kepada-Nya bagi dunia: “Untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; … untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas.” (Lukas 4:18,19)

Yesus datang untuk mengangkat beban kita sehingga kita dapat mengangkat kepala kita untuk menyambut-Nya saat Natal tiba.
(David McCasland)

Teman-teman tak akan bosan-bosan panitia Natal paryasop 2008 mengharapkan dukungan doa dan kehadirannya pada Acara Natal Paryasop 2008:

Hari/ Tanggal : Sabtu/ 13 Desember 2008
Pukul               : 18.00 ( 6 sore WIB )
Tema               : It’s Time to Give
Pembicara      : Pdt. Victor Mangapul Sagala D.Th
Tempat           : Gereja HKBP Sudirman Jakarta

Bagi teman-teman yang memiliki milist angkatan please teruskan publikasi ini ke milist masing-masing kalau-kalau ada alumni yang tidak bergabung di milist alumni Yasop.

Thx and Love in Christ
Panitia Natal 2008

Phylis bukan anak yang mudah untuk dikasihi. Saya menginginkan
yang terbaik baginya dan saya berdoa supaya Tuhan memberkatinya,
tetapi kadang-kadang saya memang berharap ia tidak termasuk dalam
kelompok Sekolah Minggu yang saya ajar. Rambutnya tidak pernah
disisir, kuku tangannya kotor, dan hidungnya beringus. Ia menjauhi
anak-anak yang lain dan kalau berjalan ia biasa menghentak-hentakka n
kakinya. Selain itu, ia adalah seorang anak perempuan yang tidak
pernah bisa duduk tenang, ia benci disentuh, dan kalau berbicara ia
selalu tak mau mengalah.

Waktu itu saya berumur dua puluh tahun, dan tahun itu untuk
pertamakalinya saya mempersiapkan sandiwara di gereja tua yang
besar, Gereja Baptis Tabernakel di sebelah barat Chicago. Pada
permulaan masa Advent, saya memegang lembaran ketikan naskah
sandiwara Natal sambil berdiri di depan anak-anak yang berkumpul.

“Siapa yang mau mendapat peran yang terlibat dalam percakapan,
angkat tangan,” kata saya, dan hampir semua anak mengangkat
tangannya. Tetapi, tentu saja tidak termasuk Phylis. Dan setelah
membagikan peran untuk setiap anak yang berminat, saya masih
mempunyai beberapa peran.

“Phylis,” kata saya, “maukah kamu mengucapkan sedikit kata-kata
dalam sandiwara Natal?”

“Siapa bilang saya mau ikut sandiwara?” katanya, sambil
menyilangkan tangannya di depan dada dan duduk miring ke belakang
sehingga kursinya hanya bertumpu pada ke dua kaki belakangnya.
“Pada malam yang sama mungkin saya pergi ke pesta,” katanya dengan
angkuh.

Tuhan, saya berdoa dalam hati, tolonglah saya untuk mengasihi
Phylis. “Tetapi kalau mau, saya masih mempunyai beberapa peran.”
“Tidak akan,” kata Phylis dan memang ia tidak mau.

Pada waktu gladiresik sore hari, anak-anak duduk di bagian
depan bangku gereja yang digelapkan. Mereka berbisik-bisik,
sementara itu orang-orang dewasa merapikan penutup kepala gembala-
gembala yang dibuat dari handuk mandi dan menyempurnakan letak
lingkaran cahaya yang terbuat dari perada di sekeliling malaikat-
malaikat.

“Baiklah ambil tempat masing-masing, ” teriak saya dari balik
altar. Pembawa cerita mulai: “Pada waktu itu, dikeluarkan suatu
keputusan …” Saya merasakan desiran getaran halus. Sekali lagi
saya terbawa ke dalam cerita yang indah ini.

“Maria tidak kelihatan seperti mau melahirkan bayi,” tiba-tiba
terdengar gumaman pelan yang serak di belakang saya. Phylis memang
tidak mau ikut sandiwara, tetapi tentu ia tidak mau melewatkan
gladiresik! “Ssst! bisik saya, sambil menepuk tangannya. Ia
merenggut tangannya dan berkata, “Iya, iya!”

Di akhir adegan itu lampu sorot hanya menyinari keluarga yang
kudus itu, dan anak-anak bersenandung menyanyikan lagu “Malam
Kudus”. Bagus sekali – tetapi siapa yang bergerak di depan
palungan? Phylis! Anda tidak tahu dimana anak itu akan muncul.
Sekarang ia memasukkan tangannya ke dalam palungan, meremas tangan
boneka yang ada didalamnya, dan menghilang di tengah kegelapan.

“Phylis,” kata saya, “apa yang kau lakukan di sana?
“Saya hanya melihat-lihat. ” katanya. “Lagipula di dalamnya
bukan bayi. Hanya sebuah boneka. Saya menyentuhnya. “
“Tuhan tolonglah saya untuk mengasihi Phylis.”

“Baiklah,” kata saya kepada para pemain. “Setiap orang harus
sudah ada di sini jam setengah tujuh untuk berganti pakaian dan
bersiap-siap supaya dapat dimulai tepat jam tujuh. Sampai nanti
malam.”

Phylis menghentakkan kakinya di sepanjang jalan di antara
deretan tempat duduk, bersama anak-anak yang mau pulang. Mudah-
mudahan pikir saya, ia sudah puas melihatnya sore ini dan tidak
kembali malam nanti. Saya tahu pikiran seperti ini bukan sikap
seorang guru Kristen, tetapi saya benar-benar mengharapkan supaya
sandiwara itu berjalan dengan lancar.

Sekitar jam 18.45 suasana di balik panggung ramai dan sibuk.
Para malaikat saling membantu mengenakan jubah yang terbuat dari
sprai. Yusuf dan orang-orang majus mengatur kawat janggut yang
dikaitkan di belakang telinga mereka. Maria memandang ke cermin
mencoba untuk menangkap eksprsi yang tepat sebagai ibu Juruselamat.
Saya berjalan dari kelompok yang satu ke kelompok yang lain,
membantu sebisa mungkin. Phylis tidak terlihat dan saya mulai
tenang.

Satu menit sebelum jam tujuh, Ny. Wright masuk. Ia menggendong
bayinya yang mungil yang baru lahir. Bayinya terbungkus kain putih,
bayi ini akan mengganti boneka yang kami pakai dalam gladi resik.
“Bayi ini baru disusui,jadi ia akan tidur selama sandiwara.”
katanya. “Anda dapat menaruhnya di palungan sesudah lampu
dipadamkan,” bisik saya.

Ketika suara piano mulai terdengar, saya duduk di kursi saya
yang disediakan untuk juru bisik di barisan depan bangku gereja.
Diiringi dengan alunan musik pembuka. Palungan disoroti cahaya lampu
dan pembawa cerita memulainya.

Tetapi tidak ada rasa getaran seperti biasanya apabila saya
mendengar awal cerita Natal, saya malahan merasakan sesuatu yang
menghantam dan mendorong lutut saya. “Geser,” terdengar suara yang
sudah saya kenal betul. “Saya tidak jadi pergi ke pesta.”

Tanpa melepaskan pandangan dari sandiwara yang sedang
berlangsung, saya bergeser dan menepuk lutut Phylis. Tetapi ia
menepiskan tangan saya kembali ke pangkuan saya. “Saya berusaha,
ya Tuhan,” kata saya dalam hati.

Para malaikat bernyanyi di depan para gembala. Para gembala
kembali ke Betlehem dan mengambil anak domba untuk dipersembahkan
kepada bayi Yesus. Orang-orang Majus menghadap raja Herodes, lalu
mereka pergi ke palungan. Maria duduk di palungan “menyimpan segala
perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” . Bagus sekali.
Phylis duduk dengan tenang sampai saya lupa ia berada di sebelah
saya, tetapi waktu saya menyadari ia sudah pergi, sudah terlambat.

Ia menghentakkan kakinya menuju palungan seperti yang dilakukan
waktu gladi resik. Tetapi kali ini ia terkejut, terpesona, lalu
membalik, matanya terbelalak takjub, dan cepat-cepat kembali
menemui saya.

“Dia hidup!” bisiknya dengan suara yang cukup keras. Dari
barisan tempat duduk di sebelah seseorang bertanya “Apa katanya?”
“Katanya, ‘Dia hidup!’” Seperti riakan air kolam, kata-kata itu
diteruskan dari barisan demi barisan sampai kembali lagi ke depan
altar. “Dia hidup … hidup … hidup…” Suasana menjadi gempar
karena setiap orang merasakn hadirat Yesus.

Dan itu adalah alasan sebenarnya dari apa yang kita rayakan.
Dia hidup! Imanuel – Tuhan beserta kita. Tuhan yang sudah menjelma
menjadi manusia. Anak perempuan yang keras dan sukar dikendalikan
sudah membawa kembali pesan Natal yang agung. Tuhan hidup!

Lampu dinyalakan, dan waktu kami berdiri menyanyi “Kesukaan
bagi dunia”, suara itu menggetarkan gereja kami yang besar dan tua,
dan itu belum pernah terjadi sebelumnya.

Saya menaruh lengan saya di sekeliling bahu Phylis yang kecil
dan sempit. “Kamu adalah bagian yang terbaik dari sandiwara ini,”
bisik saya, sambil menariknya ke arah saya. Phylis menjawab, “Saya
tidak ikut sandiwara,” katanya. Tetapi kali ini ia tidak mendorong
saya.

Sumber:
Judul Buku: Kisah Nyata Seputar Natal
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
Penulis : Doris Swehla
Halaman : 84 – 87

Kakak, Abang, teman-teman dan adik2 alumni Yasop, jangan lupa mendoakan persiapan Ibadah Natal ParYasop dan menghadirinya, yang akan diadakan pada :

Hari/ Tanggal : Sabtu/ 13 Desmber 2008
Pukul : 18.00 ( 6 sore )
Tempat : Gereja HKBP Sudirman Jakarta
Pembicara : Pdt. Mangapul Sagala D.Th

Salam kasih,
Panitia Natal 2008

Posted By SIB on Agustus 5th, 2008

Medan (SIB)

Seluruh alumni SMA Negeri 2 Plus Yayasan Soposurung (Yasop) tahun 2008 yang berjumlah 40 orang berhasil lulus Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN)/UMB 2008. Prestasi itu cukup membanggakan masyarakat Sumut karena SMA Plus Yasop tercatat sebagai satu-satunya SMA di Indonesia yang seratus persen lulusannya diterima di perguruan tinggi negeri.
Dari daftar kelulusan UMB/SNMPTN alumni Yasop 2008 angkatan 16 yang diterima SIB, Senin (4/8) para lulusan itu sebagian besar masuk Universitas Indonesia (UI) sebanyak lima belas orang, Institut Teknologi Bandung (ITB) delapan orang, Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung empat orang, Universitas Gajah Mada (UGM) Jogjakarta, selebihnya Universitas Negeri Lampung (UNILA), Universitas Sriwijaya (UNSRI) dan Universitas Sumatera Utara (USU).

Robert Njo sebagai salah satu pengurus Yasop mengatakan, keberhasilan SMA Plus Yasop yang diasuh Letjend (Purn) DR TB Silalahi sebagai Ketua Dewan Pembina Yasop patut disyukuri dan dibanggakan masyarakat Sumut. Soalnya dari data yang ada hanya SMA unggulan di Balige itu yang siswanya seratus persen diterima di perguruan tinggi negeri tahun 2008 ini dari antara seluruh SMA yang ada di Indonesia.
Para siswa itu diterima Fakultas/Jurusan yang sulit ditembus seperti Teknik Kebumian, Teknik Pertambangan, Teknik Kimia, Teknik Perkapalan, Teknik Penerbangan, Teknik Sipil, Arsitektur, Teknik Elektro, Kedokteran, Teknik Informatika, Akuntansi, Hukum dan lain-lain.
Menurut Robert Njo, sejak awal pendiriannya SMA Plus Yayasan Soposurung membina siswa terbaik dalam satu kelas sebanyak 40 siswa. Hingga kini telah menghasilkan 16 Angkatan yang setiap tahunnya hampir seratus persen lulusannya berhasil menembus perguruan tinggi terbaik. “Memang setiap tahunnya lulusan SMA Yasop hanya satu atau dua siswa yang tidak masuk PTN dari setiap angkatan. Itu pun karena ada faktor non teknis misalnya siswa itu tidak fokus saat seleksi mungkin karena ingin masuk Akabri atau mendapat beasiswa ke luar negeri. Baru tahun 2008 inilah seratus persen lulusan kita masuk PTN,” ujarnya.

Prestasi itu menurutnya bisa diraih karena proses seleksi menjadi siswa sangat ketat baik dari sisi penguasaan mata pelajaran juga harus dites phisik dan psikologinya. Calon peserta yang bisa mengikuti seleksi adalah lulusan terbaik dari SMP-SMP yang ada di Sumut. Selain mendapat pelajaran tambahan, para siswa selama di asrama pun dibina mental dan phisik agar menjadi manusia yang cerdas, berkarakter, berdisiplin dan santun.

SMA Plus Yasop kemudian ditetapkan pemerintah menjadi SMA Nasional berstandar internasional sejak tahun 2007 lalu. Untuk itu pembenahan dilakukan antara lain menambah gedung asrama, gedung perpustakaan berikut ribuan buku dibeli dari Singapura agar berstandar internasional dan melengkapi laboratorium computer dengan teknologi IT atau multimedia. Kemudian mulai tahun 2008 lanjut Robert, Yasop menerima siswa sebanyak 80 orang.

Menyikapi harapan yang disampaikan Gubsu H Syamsul Arifin, SE kepada Letjend (Purn) TB Silalahi di Balige beberapa waktu lalu agar SMA Plus Yasop memberi kesempatan besar kepada siswa-siswa dari suku Melayu, Jawa atau non Batak, Robert Njo mengatakan, sebenarnya sejak beberapa tahun lalu pun ada beberapa siswa SMA Yasop dari berbagai suku.

Untuk itu para Bupati/Walikota di Sumut sebaiknya ikut mendorong dan membina calon siswa sejak dari SMP sehingga benar-benar siap saat mengikuti seleksi. “Karena pada prinsipnya seleksi dilakukan ketat dan fair. SMA Yasop hanya menyiapkan tempat terbatas dalam dua lokal tahun 2008 sejak ditetapkan pemerintah menjadi SMA nasional berstatus internasional,” katanya. (M-17/d)

Dikutip dari Harian SIB

Tobasa (SIB)
Yayasan Soposurung bekerjasama dengan TB Silalahi Center melakukan pemilihan guru teladan tingkat Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama dan Sekolah Tingkat Atas se-Kabupaten Toba Samosir. Puncak pemilihan 9 orang guru teladan yang masuk grandfinal untuk masing-masing tingkatan yang diikuti 3 orang guru, dilaksanakan di Conventional Hall TB Silalahi Center di Jalan Pagarbatu Balige, Sabtu (16 Agust) langsung dihadiri ketua Dewan Pembina TB Silalahi Center dan Yasop Balige Letjen (Purn) DR TB Silalahi SH.
Pemilihan guru teladan tingkat Kabupaten Toba Samosir tahun 2008 yang mendapat animo yang begitu besar dari masyarakat khususnya kalangan dunia pendidikan yang ada di Tobasa, tidak kalah dengan pemilihan guru teladan tingkat nasional. Karena, guru-guru yang masuk grandfinal dan menjadi guru teladan I-III di setiap tingkatan memperoleh hadiah berupa 1 unit sepeda motor, piagam, trophy dan uang tunai Rp3 juta (Teladan I), Laptop, piagam, trophy dan uang tuani Rp2 juta (Teladan II) dan laptop, piagam, trophy dan uang tunai Rp1 juta (Teladan III).

Hal itu juga diakui oleh Ketua Umum Pembina Yayasan Soposurung Balige Letjen (Purn) DR TB Silalahi SH saat menyampaikan arahannya usai dewan juri yang diketuai Drs Hulman Sitorus (Kadis Pendidikan Tobasa) bersama Josep Fraklin Sihite dan Harum M Siregar, membacakan nama-nama guru teladan I, II dan III untuk tiap tingkatan. “Saya bangga kepada guru-guru teladan yang terpilih hari ini, kalian tidak kalah dengan guru-guru teladan yang dipilih tingkat nasional. Pemilihan guru teladan Tobasa ini tidak kalah penting dengan pemilihan guru tingkat nasional terutama soal hadiah yang diberikan,” ungkap putra Balige yang masuk menjadi anggota dewan pertimbangan Presiden itu.

Pada Grandfinal pemilihan guru teladan se-Kabupaten Tobasa yang juga dihadiri oleh Bupati Tobasa diwakili Sekdakab Tobasa Liberty Pasaribu SH MSi, Kadis Pariwisata dan Budaya Resman Sirait SE, Kadis PMD dan Pemberdayaan Perempuan Drs Gunadi Napitupulu, Kakan Ketahanan Pangan Ir Jhonson Simanjuntak, para kepala sekolah dan pengurus Yasop dan TB Silalahi Center serta para siswa-siswi dari masing-masing guru yang masuk grandfinal, TB Silalahi mengungkapkan, pemilihan ini penting untuk memotivasi guru-guru yang lain untuk lebih meningkatkan kemampuannya.

Menjadi guru teladan, kata TB Silalahi yang pada 10 tahun terakhir ini menjadi dosen favorit di Lemhanas, kunci guru tersebut harus mencintai pekerjaannya (bangga sebagai guru). Guru itu juga harus menguasai subjek (materi bidang studi yang dibawakan) serta selalu memperdalam pengetahuannya dalam bidang ilmu yang digeluti. “Mampu berkomunikasi dengan semua siswa (anak didiknya), inovatif dan juga kreatif. Dan Guru juga harus tahu atau mengenal siswanya guru harus mampu menjadi sebagai seorang ibu dan juga seorang bapak karena ada kalanya seorang anak didik murid tidak mampu berkomunikasi dengan orang tuanya di rumah guna menyampaikan hal-hal yang dihadapinya,” pungkas TB.

Untuk guru-guru teladan tingkat Kabupaten Tobasa yang terpilih, TB Silalahi berpesan bahwa dengan terpilihnya sebagai guru teladan di Kabupaten Tobasa tahun 2008, merupakan tanggungjawab yang berat. Karena menjadi guru teladan haruslah benar-benar teladan dalam setiap hidupnya baik di lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat.

TB Silalahi kepada SIB usai pelaksanaan pemilihan guru teladan se-kabupaten Tobasa mengungkapkan, salah satu kekayaan Bonapasogit khususnya orang Batak adalah Sumber Daya Manusia (SDM). Kekayaan Sumber Daya Manusia ini, harus terus dibina apalagi sesuai dengan filosofi orang Batak dengan nyanyian “Anakkonki do hamoraon di au”. Filosofi ini juga menunjukkan, bahwa pendidikan yang bisa merubah nasib orang tua, lingkungan dari orang Batak itu.

“Dan inilah yang dilakukan Yayasan Soposurung Balige yang membangun SDM melalui pendidikan. Dan untuk tahun 2008 ini dan baru pertama ini terjadi di Indonesia, angkatan tahun 2008 Yasop semua lulus 100 % pada penerimaan mahasiswa baru negeri yang ada di Indonesia, (melalui UMB/SNMPTN). Keberhasilan ini, bukan tergantung hanya pada siswanya saja, tetapi para guru-guru. Itulah sebabnya, mulai tahun ini dan semoga berlangsung setiap tahunnya akan terus dilakukan pemilihan guru teladan se-Kabupaten Tobasa,” terang TB Silalahi.

Kiranya dengan dilakukannya pemilihan guru teladan tingkat Kabupaten Tobasa yang dilakukan Yayasan Soposurung Balige ini, lanjut TB silalahi, membawa dampak yang luas guna peningkatan kinerja para guru yang ada di Tobasa menjadi guru-guru teladan. Tentunya selain usaha-usaha yang dilakukan Yayasan Soposurung, dengan diberikannya bea siswa kepada siswa-siswi yang ada di bonapasogit, terang TB Silalahi.
Ditanya apakah Yasop Balige juga akan melakukan pemilihan guru teladan untuk tingkat kawasan Tapanuli?, dengan diplomatis mantan Menpan ini mengatakan, tahap pertama dilakukan untuk Kabupaten Toba Samosir saja dulu. “Yang penting konpensional dan langgeng serta berkelanjutan dulu,” ungkap TB.

Guru Teladan I Untuk Tiap Tingkatan Mendapat 1 Unit Sepeda Motor
Pada grandfinal pemilihan guru teladan tingkat Kabupaten Toba Samosir yang berlangsung di Convention Hall TB Silalahi Center ini, sesuai dengan hasil keputusan dewan juri yang dibacakan langsung oleh ketua Tim Juri Drs Hulman Sitorus, untuk guru Teladan I tingkat Sekolah Dasar (SD) dengan nilai 285,1 diraih Timor Tambun Guru SD 173623 Porsea, guru Teladan II diraih Porman Nainggolan SPd dengan nilai 284,9 guru SDN 173593 Parsoburan, dan teladan III diraih Darma Bakti Kalba guru MIN Lumban Gurning Porsea dengan nilai 283,1.

Untuk guru Teladan tingkat SLTP, teladan I diraih Lamhot Uli Simanjuntak Guru SMP Negeri 2 Balige dengan nilai 284. Guru Teladan II dengan nilai 283,7 diraih Dra Risma Napitupulu guru SMP Negeri I Porsea dan teladan III dengan nilai 283,1 diraih Bagas Siahaan SPd guru SMP Negeri 4 Laguboti.
Sementara itu untuk tingkat SMA/SMK, Guru Teladan I diraih Sesmon Butar-butar SPd dengan nilai 285,6 Guru SMK Negeri I Balige. Guru Teladan II dengan nilai 285,1 diraih Jelarwin Dabutar SPd MPd Guru SMK Negeri I Laguboti dan dan Guru Teladan III diraih Dra Humide Sianipar guru SMA Negeri I Habinsaran dengan nilai 284,6.

Untuk masing-masing guru teladan I,II,III setiap tingkatan, mendapat 1 unit sepeda motor, trophy, piagam dan uang tunai Rp 3 juta (Teladan I). Teladan II berhak atas satu laptop, piagam,trophy dan uang tunai Rp 2 juta. Teladan III berhak atas 1 laptop, piagam, trophy dan uang tunai Rp1 juta.
Semuanya hadiah untuk Teladan I diserahkan langsung oleh DR TB Silalahi SH, Teladan II diserahkan Bupati Tobasa diwakili Sekdakab Tobasa Liberty Pasaribu SH MSi, Teladan III diserahkan langsung oleh Kadis Pendidikan Tobasa Drs Hulman Sitorus. (T11/m)

Dikutib dari Harian SIB.

Rombongan tour operator dari biro-biro perjalanan wisata ternama dan para wartawan dari Singapura akan berkunjung ke TB Silalahi (TBS) Center, Balige hari ini, Selasa (13/5) yang rencananya mendarat langsung di Bandara Silangit, Siborong-borong dengan pesawat Silk Air jenis Boeing 737. Hal itu sebagai momentum menghidupkan kembali pariwisata ke Sumut khususnya kawasan Danau Toba

Selain mengunjungi museum Batak dan perkampungan Batak di TBS Center, para tour operator itu juga direncanakan berkeliling melihat objek-objek wisata di sekitarnya seperti Hutaginjang sebagai salah satu pemandangan terindah di dunia, Pulau Samosir hingga objek wisata Salib Kasih dan tempat pemandian air belerang yang ada di Tarutung. Hal itu disampaikan Robert Njo, staf khusus anggota Dewan Pertimbangan Presiden Letjend (Purn) DR TB Silalahi kepada wartawan di Medan, Sabtu (10/5).

Seperti diketahui, pendirian TBS Center adalah bentuk perhatian TB Silalahi melestarikan warisan budaya atau heritage Batak Toba agar tidak hilang ditelan jaman “Sejalan dengan itu, pak TB Silalahi berpikir menjadikannya TBS Center sebagai objek wisata agar dikunjungi masyarakat lokal dan turis-turis mancanegara. Hal ini supaya pembiayaan program pelestarian budaya dan perawatan TBS Center itu bisa mandiri. Soalnya pak TB juga tetap menganggarkan subsidi besar untuk anak-anak SMU Yayasan Soposurung dan untuk pengembangan dan penelitian pertanian di bona pasogit,” ujar Robert.

Menyadari kondisi kepariwisataan di kawasan Danau Toba yang kian hari kian sepi, makanya TBS Center bekerjasama dengan Pemkab di dataran tinggi Tapanuli, Badan Pariwisata Sumatera Utara (Bawisda) dan ASITA atau assosiasi biro perjalanan wisata Sumut memikirkan program bersama untuk menghidupkan kembali dunia pariwisata Danau Toba.

Dengan kehadirannya, para tour operator diharapkan segera membuat paket wisata untuk dijual ke masyarakat Singapura maupun Negara-negara tetangga bekerjasama dengan para biro perjalanan wisata Sumut. Para jurnalis Singapura itu pun diharapkan membantu mempromosikannya. “Sebagaimana diketahui, Singapura merupakan kota transit paling ramai dikunjungi berbagai Negara di dunia. Para tour operator itu nantinya akan mengalihkan turis mancanegara yang berkunjung ke Singapura untuk terbang ke Sumut,” ujarnya.

Langkah berikutnya, TBS Center dalam waktu dekat segera mengoperasikan kapal yang akan disulap menjadi restoran terapung yang cukup mewah. Kapal itu kata Robert nantinya akan membawa para turis mancanegara maupun domestik termasuk para pejabat asal Jakarta mengitari kawasan Danau Toba sambil menikmati jamuan makan di atas kapal.

Untuk itu Pak TB kata Robert mengharapkan seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah daerah terkait untuk mendukung hal itu. Karena sektor pariwisata itulah yang memberi dampak luas (multiplier effects) yang dirasakan masyarakat. “Contoh, pendapatan Kota Las Vegas di Amerika Serikat, Singapura dan Malaysia dari kompleks perjudian sebenarnya hanya menyumbang 20 persen sebagai devisa negara yang dirasakan masyarakat. Yang lebih banyak adalah pariwisata sebesar 80 persen. Kalau turis ramai, jasa taksi, angkot, tingkat hunian hotel, restoran, para pedagang, seniman dan lain-lain akan bergeliat. Belum lagi komoditi pertanian daerahnya akan bergairah dengan meningkatnya pasokan makanan ke hotel dan restoran,” paparnya.

Untuk itu di kawasan Danau Toba dukungan yang perlu segera dibenahi katanya adalah penyediaan akomodasi yang bersih, sarana jalan diperbaiki dan Bandara Silangit akan dikembangkan lagi terutama terminal penumpangnya. “Prinsip pariwisata itu jangan susah ditempuh dan sebaiknya dekat dengan Bandara,” katanya.

Salah satu terobosan lainnya, kata Robert, Pak TB Silalahi akan membicarakan masalah pariwisata Sumut dengan Menteri Pariwisata dan Kebudayaan. Apalagi menurut informasi dari masyarakat pariwisata Sumut diketahui, kebijakan pariwisata tahun 2008, Sumut tidak lagi masuk dalam lima kota tujuan atau destinasi pariwisata di Indonesia. Padahal, Sumut merupakan daerah yang paling ramai dikunjungi turis di Indonesia setelah Bali.

“Informasi kita dengar, tahun-tahun lalu jumlah wisatawan ke Sumut rata-rata 500 ribu per tahun. Sekarang turun jadi rata-rata 150 ribu orang per tahun. Tapi itu pun masih di atas Jogjakarta. Tapi kenapa Sumut tidak masuk dalam lima kota destinasi pariwisata. Masalah ini akan dibicarakan pak TB khusus dengan Menteri Pariwisata,” ujarnya

Jika saja aku dapat menangkapnya nanti, aku akan membunuh dia dan pengikutnya, dasar nelayan desa kecil yang sok berani” ,mungkin hal ini yang terbersit di pikiran Saulus, calon pembesar Sanhedrin, ketika menyaksikan kesaksian Petrus yang tampaknya tidak takut apapun bahkan mampu berkhotbah dengan penuh karisma di hadapan pengadilan agama. Ia rasanya tidak tahan ketika Petrus dan rasul-rasul lain berkhotbah memberitakan Yesus yang telah bangkit sebagai Tuhan dan juruselamat. Kemarahannya semakin berkobar-kobar saat semakin banyak orang-orang Yahudi yang percaya dan menjadi pengikut Yesus. Mereka hidup dalam kebersamaan, saling menolong dan jumlahnya semakin bertambah. “ Iman seperti apa yang dianut oleh orang-orang ini? Mengapa tokoh tersalib yang disaksikan bangkit itu begitu hidup dalam persekutuan mereka?” Saulus tidak habis pikir sambil menggeram dalam hati dan terus menatap Petrus dengan ketajaman amarahnya.
Saulus berharap si terdakwa itu dihukum rajam sampai mati. Tapi tiba-tiba gurunya sendiri , Gamaliel angkat bicara setelah mendengarkan Petrus.” Hai orang-orang Israel , pertimbangkanlah baik-baik apa yang hendak kamu perbuat terhadap orang-orang ini! Sebab dahulu telah muncul si Teudas, yang mengaku dirinya seorang istimewa dan ia mempunyai kira-kira empat ratus orang pengikut; tetapi ia dibunuh dan cerai berailah seluruh pengikutnya dan lenyap. Sesudah dia, pada waktu pendaftaran penduduk, muncullah si Yudas, seorang Galilea. Ia menyeret banyak orang dalam pemberontakannya, tetapi ia juga tewas dan cerai-berailah seluruh pengikutnya. Karena itu aku berkata padamu : Janganlah bertindak terhadap orang-orang ini. Biarkanlah mereka, sebab jika maksud dan perbuatan mereka berasal dari manusia tentu akan lenyap” kata Guru besar itu.
Anehnya, argumen Gamaliel itu diterima oleh dewan Sanhedrin. Saulus tidak mengerti bisa-bisanya sang Guru berkata demikian. Sementara Petrus mengetahui dalam hatinya bahwa hikmat Allah telah menghadirkan sekutu yang tidak terduga yang tak pernah terharapkan meskipun hanya untuk momen pengadilan tersebut. Dia tidak dijatuhi hukuman mati tetapi harus mendapat cambukan sebelum dilepaskan. Semakin berkobar kebencian dan kemarahan Saulus, rasanya dia ingin menginjak-injak Petrus, ‘nelayan tak berpengetahuan” yang tidak pernah diduganya akan menjadi teman sekerjanya kelak.
Bersambung……
Doakan dan Hadirilah………!
PASKAH PARYASOP
Tema : I CHOOSE YOU ( Kis 9:1-15)
Sabtu, 12 April 2008
Pukul 17.00 WIB
Tempat: Gereja HKBP Kernolong,
Kramat, Jakarta Pusat
Contact Person :
Balugu 081384861407
Sopar 085214736656
Salam,
Panitia Paskah Paryasop 2008
paskah.gif

Pemuda itu pasti seorang kader pemimpin bangsa. Orang tuanya berasal dari partai paling kuat dalam nasionalisme yudais dan begitu ketat menaati hukum taurat. Hal ini tentu saja diturunkan kepada dia. Pada usia ketiga belas, bocah lelaki itu telah paham benar sejarah bangsanya, sajak-sajak Mazmur dan kepustakaan para nabi bahkan ilmu filsafat pada zamannya bukan tidak mungkin menjadi makanannya sehari-hari.

Bagaimana tidak, Gurunya saja Gamaliel, cucu Hillel, yang merupakan Guru tertinggi agama Yahudi pada masa itu. Dia benar-benar dididik sebagai seorang intelek religius yang semakin cerdas. Ketekunan dalam membedah teks semakin mempertajam keahliannya dalam ilmu debat tanya jawab yang dikenal dengan ‘diatribe’. Dia belajar menguraikan segala sesuatu dengan terperinci, sebab seorang Rabi bukan hanya sebagai pengkhotbah tetapi berperan sebagai pengacara untuk membela hukum-hukum kudus. Pemuda itu benar-benar mengungguli rekan-rekannya.

Dengan kemampuannya maka tinggal beberapa langkah lagi akan membawanya ke kursi Sanhedrin, Mahkamah Agama tertinggi dan paling dihormati “ Hall of Polished Stones”. Rasa nasionalismenya yang tinggi lahir dari watak keras sehingga pemuda ini pada usia dini meninggalkan Tarsus , kota kelahirannya yang merupakan kota besar dengan pelabuhan laut dan rute perdagangan yang sangat populer menuju Roma. Yerusalem lebih berharga baginya dan bagi keluarganya.

Ayahnya yang merupakan pengusaha tenda yang mapan di Tarsus mengirimkan putranya itu dengan impian dia menjadi pembesar bagi bangsa Yahudi. Kebanggaan mereka menjadi orang Israel lebih besar dibandingkan menjadi orang bebas di Tarsus dengan identas warga Negara Romawi yang sangat istimewa pada zamannya. Pemuda ini memulai karir dan hidup dengan langkah tegap dan mengangkat kepala. Namun kisah kejatuhannya dari segala kebanggaan itu pada akhirnya akan lebih dikenal dari abad ke abad dibandingkan segala prestasi yang pernah terukir.

Bersambung……..

Kakak-Kakak, Abang, Teman-teman dan Adik-Adik Alumni…
Jangan Lupa mendoakan dan menghadiri.

PASKAH PARYASOP
12 April 2008
Pukul 17.00
Tema : I CHOOSE YOU ( Kis 9:1-15)
Tempat: Gereja HKBP Kernolong, Kramat, Jakarta Pusat

Contact Person :

Balugu 081384861407
Sopar 085214736656

Salam,
Panitia Paskah Paryasop 2008

 

Tulisan: Joly Sitanggang

 

“…takdir dari semua sistem di biosfer kita-mulai dari sel biologis hingga ekonomi-adalah

ber-evolusi menuju keadaan alamiah antara teratur dan chaos,

sebuah kompromi yang dashyat antara hal yang terstruktur dan hal yang mengagetkan

(Stuart Kauffman,1995)

“… jika perubahan adalah keniscayaan zaman, tentu tidak ada sangkalan apabila organisasi harus berubah dan dirubah, baik struktur maupun kulturnya yang sama-sama kita anggap pantas untuk dirubah….”

1. Pengantar

Yayasan Soposurung (Yasop) didirikan atas dasar kesadaran sejumlah tokoh-tokoh bonapasogit yang sukses di perantauan tentang arti penting pendidikan manusia Indonesia, dalam hal ini khususnya pendidikan manusia Bonapasogit Batak. Pendirian lembaga ini ditujukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan bonapasogit untuk menghasilkan manusia-manusia cerdas yang mampu meraih pendidikan Perguruan Tinggi dengan latar belakang kemampuan ekonomi yang relatif miskin, meningkatkan rasa cinta generasi muda terhadap kebudayaannya dalam hal ini kampung halaman-bonapasogit sebagai salah satu identitas bangsanya. Singkat kata Yasop diharapkan mampu menciptakan generasi muda yang berpendidikan yang memiliki kepedulian untuk mengembangkan kehidupan bermasyarakat di Indonesia khususnya di tanah Bonapasogit Batak.

Hal inilah yang mendorong lahirnya sebuah organisasi alumni (PARYASOP) yang dideklarasikan pada tanggal 4-6 November 2005 di Balige, Toba Samosir. Sebuah organisasi yang mewadahi ikatan persaudaraan alumni Yasop yang menjadi penerus tongkat estafet perjuangan pendahulu kita. Organisasi alumni yang menjadi tulang punggung dalam membina, menumbuhkan, dan mengembangkan alumni Yasop ke arah kematangan berfikir, integritas, dan peningkatan kualitas di segala bidang (Tujuan Paryasop Internal point 2).

Berbicara mengenai Paryasop sedikit banyak memiliki persamaan dan perbedaan dengan bangsa Indonesia. Bangsa Indonesia adalah bangsa yang sangat heterogen, mulai dari suku, agama, dan bahasa. Sejarah membuktikan keberagaman ini juga terdapat dalam tubuh Yasop dan Paryasop. Hal ini bisa dilihat dari komposisi siswa-siswi asrama Yasop, ada yang beragama Kristen, Islam, Budha, Hindu dan juga berasal dari berbagai suku misalnya suku Batak, Jawa, Chinesee, dan sebagainya. Anggota Paryasop menempati lokasi yang tersebar di seluruh Nusantara dengan bidang profesi dan keahlian yang cukup beraneka ragam. Jika dibandingkan dengan Indonesia, Paryasop merupakan sebuah model sederhana dari Negara Kesatuan Republik Indonesia ditinjau dari keberagaman latar belakang sejarah berdirinya. Paryasop telah menjadi rumah yang anggota keluarganya sangat beragam. Apakah kesatuan alumni Yasop dalam Paryasop berhenti dengan alasan kesamaan almamater saja? Apakah ada motif rasional yang lain yang mendorong terjadinya hubungan bersama demi kesejahteraan bersama dalam wadah Paryasop? Bagaimanakah dinamika sistem kesatuan alumni Paryasop? Bagaimana generasi angkatan muda alumni Yasop memandang Paryasop sebagai wadah yang mempersatukan? Mungkinkah suatu saat kita akan mengalami musibah runtuhnya kontrak sosial dalam ikatan persaudaraan yang diperjuangkan pendahulu-pendahulu kita?

Hal ini yang menjadi pertanyaan-pertanyaan yang mesti mampu kita jawab bersama dan dipahami dalam mendorong pertumbuhan organisasi. Paryasop sebagai organisasi alumni yang terbilang masih seumur jagung seharusnya sudah saatnya memikirkan kematangan dan pengembangan diri sendiri sejak dideklarasikan pada 4-6 November 2005. Harus diakui bahwa hal ini adalah permasalahan yang cukup mendesak dan layak untuk didiskusikan mengingat kemandekan program kerja organisasi yang terkesan melempem. Jika kita belum mampu mendefinisikan arah gerak Paryasop, maka pembahasan seperti organisasi berbadan hukum dan pengadaan kesekretariatan belum waktunya untuk dibahas dalam mencari sebuah kesepakatan yang terkesan tergesa-gesa dan prematur.

Lahir dan terbentuknya organisasi alumni dalam ikatan Paryasop dan kemungkinan runtuhnya ikatan ini merupakan hal yang akan menjadi fokus utama dari tulisan ini dengan tujuan agar langkah-langkah taktis yang diambil tidak menghambat pergerakan organisasi dan setiap elemen organisasi memahami secara spesifik terjadinya ikatan kerjasama (cooperation) yang memungkinkan munculnya tindakan bersama (collective action). Harus diakui keberagaman elemen Paryasop merupakan hal yang spesifik dan unik yang menjadi dasar asumsi dalam menetapkan fungsi-fungsi elemen organisasi. Secara kualitatif tentu kita bisa mengatakan bahwa heterogenitas (sebenarnya cukup homogen) Paryasop bisa menjadi pedang bermata dua, yakni sumber daya potensial organisasi, namun dengan penanganan yang buruk akan menjadikannya kondisi awal terjadinya konflik dan keruntuhan ikatan organisasi. Beberapa riset yang dilakukan oleh pengamat sosial ditunjukkan bahwa besarnya sebuah kekuatan kelompok berdasarkan atas kesamaan etnik, agama, atau ras merupakan sebuah parameter ancaman terhadap keutuhan sebuah negara (Addison et.al., 2001), dalam hal ini kita berbicara mengenai organisasi.

Melalui tulisan ini kiranya dapat menunjukkan bagaimana terjadinya sebuah kontrak sosial adalah hal yang muncul dengan sendirinya meski didalamnya terdapat elemen-elemen yang berbeda (heterogen) – dan bahkan cenderung non-kooperatif. Dalam setiap permainan kooperatif selalu ada sebuah kesepakatan dari tiap agen sebagai aturan yang disepakati bersama – dan hal inilah yang menghasilkan kerjasama dan tindakan bersama tiap pemain. Mengutip karya besar Thomas Hobbes (1962, 1998) dalam Leviathan, untuk menciptakan sebuah negara yang teratur dan berfungsi dengan baik dan aspiratif, harus dilakukan semacam kontrak sosial di antara tiap warga negara yang akan memberikan aturan yang jelas tentang hukuman dan juga apresiasi dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Dalam konteks global, yaitu kehidupan bernegara hal ini menjadi tidak tepat, karena sulit sekali membayangkan (tidak realistis) sebuah negara yang mampu mengatur, mengumpulkan, dan mengontrol seluruh elemen penyusun sistem sosialnya untuk menyusun sebuah kontrak sosialnya. Bagaimana sebenarnya kerjasama dan tindakan kolektif dapat muncul tanpa adanya kontrak atau aturan?

Dengan kata lain, kerjasama dapat timbul dengan sendirinya sedemikian sebagai sebuah karakter sosial. Penyebabnya menjadi sebuah spekulasi dan kajian yang menarik saat ini. Bagaimana elemen-elemen Paryasop dengan struktur heterogenitas memiliki kemiripan yang identik dengan NKRI dapat tumbuh berkembang, berangkat dari kerjasama antara individu yang dapat dimodifikasi menjadi tindakan kolektif. Lebih jauh dapat dikatakan bahwa kerja sama dapat terjadi tanpa kedaulatan dan kontrak sosial. Kerja sama timbul sebagai produk meta-kedaulatan tertentu yang berlandaskan manusia sebagai makhluk sosial dan sebagai bagian dari proses evolusi sosial manusia. Dan sebaliknya kemungkinan kehancuran kolektifitas (negasi dari kerja sama) dapat terjadi akibat faktor-faktor interaksi yang justru melawan sifat dari kontrak sosial itu sendiri.

Sejarah mencatat dan sangat sering diulang-ulang disebutkan bahwa salah satu faktor primer timbulnya rasa persatuan dan kesatuan di kalangan Indonesia adalah perasaan senasib dan sepenanggungan sebagai jajahan Belanda dan Jepang. Hal inilah yang menyebabkan ketika sarana informasi masih sangat terbatas duet Ir. Soekarno dan Drs. Moh. Hatta dengan cepat dapat diterima sebagai proklamator kemerdekaan oleh delegasi yang berasal dari kondisi geografis negara kepulauan. Analogi yang sama dapat kita digunakan untuk menganalisis organisasi Paryasop. Bahwasannya Paryasop berdiri atas dasar kesamaan almameter, perasaan senasib dan sepenanggungan tatkala digembleng dalam pendidikan asrama Yasop.

Saat ini terjadi berbagai kekecewaan publik atas legitimasi dan struktur organisasi Paryasop yang sering kali masih bersifat pendapat individu (belum bersifat delegatif, misalnya kekecewaan per angkatan). Hal ini perlu dicermati secara mendalam dan seharusnya menjadi umpan balik evaluatif bagi pihak-pihak yang berwenang untuk mencermati pandangan dan pencitraan Paryasop di mata generasi angkatan muda (publik yang berstatus mahasiswa). Jika tidak tentunya bukan tidak mungkin akan terdapat nilai-nilai ambang yang dapat mendorong runtuhnya kontrak sosial yang disepakati pada awal organisasi Paryasop terbentuk.

Dalam tulisan ini akan dibangun sebuah model yang diharapkan mampu menjelaskan lahirnya tindakan bersama sebagai generasi pembangun bonapasogit yang dituangkan dalam wadah Paryasop dan bagaimana pola dinamika organisasi ini secara evolusioner berkembang. Model juga sebisa mungkin diarahkan agar dapat menunjukkan bagaimana hubungan sistem pemerintahan Paryasop dan individu di dalamnya untuk menghindari munculnya reaksi-reaksi yang bersifat segmentasi dan segregatif yang dapat mengganggu ikatan kesatuan dan proses berjalannya struktur pemerintahan organisasi. Melalui paparan ini diharapkan terdapat refleksi yang terstruktur yang menerangkan permasalahan yang sedang atau akan terjadi.

2. Proses Terbentuknya Kontrak Sosial

Konstruksi bangunan model statik mengadopsi teori permainan yang secara lebih jauh dapat dikembangkan sebagai model dinamik dan komputasional (untuk hal ini dapat digunakan beberapa model evolusioner dan algoritma genetika – BFI, 2003). Model statik dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu masa sebelum terjadinya kontrak sosial dan masa sesudah terbentuknya kontrak sosial. Pada masing-masing sub-model terlihat bagaimana fungsi elemen berubah dan mengalami dinamika tertentu. Secara skematik dapat digambarkan :

gambar1.jpg


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Skematik Model Statik Evolusi Kontrak Sosial

(Working Paper BFI, 2003)

Individu-individu (generasi muda Paryasop) tergabung dalam kelompok-kelompok berdasarkan suku/etnis, agama, status mahasiswa dan non-mahasiswa, basis angkatan, dan wilayah. Setiap kelompok memiliki perwakilan atau delegasi yang akan mewakili anggota kelompoknya dalam melakukan interaksi dengan kelompok lain. Hubungan antara delegator dengan anggotanya adalah bersifat dua arah, anggota kelompok menyampaikan aspirasi kepada delegator dan delegator akan menghitung seberapa penting aspirasi tersebut untuk dijadikan keputusan kelompok. Proses sebaliknya juga berlaku yaitu delegator mencari aspirasi anggotanya, turun kebawah menjemput bola.

Cat : Permasalahan selama ini adalah belum adanya sistem perwakilan organisasi yang baku sebagai panduan untuk menggerakkan roda pemerintahan Paryasop.

Delegator dapat dianggap sebagai pemimpin kelompok dan memiliki pengaruh terhadap anggota kelompoknya, sehingga jika keputusan kelompok telah ditentukan maka masing-masing anggota kelompok akan menerima keputusan tersebut pada waktu itu. Proses ini akan terus berlangsung sehingga keputusan individu dalam setiap kelompok tidak semata-mata tergantung kepada dirinya sendiri tetapi juga dipengaruhi faktor dari luar yaitu kondisi kelompok yang terwakili melalui peran delegator.

Misalkan terdapat k kelompok, K = {G1, G2…. Gk} dengan masing-masing kelompok terdiri dari individu, Gj = {ij1…. ij(n)}, dan masing-masing kelompok memiliki delegasi dj di Gj sehingga dalam teori permainan yang mendasarkan pada dua pilihan keputusan, misalnya pi(t) menyatakan peluang individu memilih “bekerjasama” pada periode waktu t dan pd(t) menyatakan peluang delegator memilih “bekerjasama”, maka pengaruh delegator terhadap individu dalam anggotanya secara formal dapat dituliskan

untitled.jpg

Persamaan 1. Persamaan Tingkat Pengaruh Delegator terhadap Individu

(Working Paper BFI, 2003 hal.4)

dengan Od(t) menyatakan keputusan yang dihasilkan delegator, dan k konstanta yang menentukan tingkat pengaruh delegator terhadap individu, sebagaimana digunakan dalam (Sulaeman, 2000).

Hal yang perlu dicermati adalah “pengaruh delegator” sebagai konstanta k. Sebagai analogi kita dapat melihat sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, dimana fisik masyarakat terbagi dalam berbagai kelompok berdasarkan suku dan wilayah, pada saat itu pengaruh pemimpin kelompok (delegator, nilai k) begitu besar terhadap anggota kelompoknya dan pengaruh ini semakin besar dengan kehadiran Soekarno-Hatta. Seberapa besar nilai k juga menentukan bahwa pada t = tanggal(17-08-45), ternyata sebagian besar anggota kelompok menyetujui terbentuknya negara Indonesia merdeka.

Persamaan ini juga dapat membuktikan teori sosiologi psikologi massa, dimana kecenderungan kesadaran individu semakin menurun dalam kesadaran kolektif, dengan kata lain kesadaran individu dalam kelompok massa akan menyatu dan menyesuaikan diri dengan kesadaran kolektif/massa.

Cat : Bagaimana peran dan pengaruh nilai k (delegator) dalam tubuh paryasop selama ini? tentunya hal ini harus kita cermati lebih mendalam dan selayaknya dapat menjadi bahan diskusi kita lebih lanjut.

3. Evolusi kontrak sosial dan kemungkinan keruntuhannya

Tidak mengherankan ketika ex-KAYSB, ex-IAYSJ, dll memiliki nilai tawar yang lebih ketika menyampaikan ide dan gagasan terhadap pemerintah pusat Paryasop. Setiap kelompok (dengan basis wilayah, kompetensi, suku, agama, hobby, mahasiswa, non-mahasiswa dll) dalam tubuh alumni Yasop memiliki nilai tawar, nilai tawar ini adalah sumber daya, baik SDM, alam, dsb. Nilai sumber daya R merupakan perpaduan antara upaya eksploitasi E dan upaya mempertahankan/memperolehnya F, dan hubungan ini berbentuk linier (Addison et.al., 2001) yang dapat dituliskan

Ri = aiEi + biFi

Persamaan 2. Persamaan Sumber Daya

(Working Paper BFI, 2003 hal.5)

dengan ai dan bi menyatakan tingkat eksploitasi dan tingkat mempertahankan sumber daya Ri oleh kelompok-i. Pemerintah pusat sebagai pengelola Paryasop (hal ini juga dapat berlaku pada negara) akan mendapat keuntungan atau hasil bagi terhadap setiap sumber daya yang ada di setiap wilayahnya, sehingga nilai utilitas pemerintah pusat bisa dituliskan

Up = Yp – λR

Persamaan 3. Persamaan Utilitas Pemerintah Pusat

(Working Paper BFI, 2003 hal.5)

pendapatan pemerintah pusat sebagian dikembalikan kepada kelompok-kelompok dengan proporsi yang tidak sama. Sehingga pendapatan kelompok-G memiliki nilai utilitas

UG= YG GRG(1-β)

Persamaan 4. Persamaan Utilitas Pendapatan kelompok-G

(Working Paper BFI, 2003 hal.5)

selanjutnya sebagian pendapatan kelompok dibagikan kepada anggota kelompok dengan proporsi β, dengan nilai β = 1 menyatakan bahwa semua pendapatan hasil sumber daya yang diberikan pemerintah pusat akan diberikan seluruhnya/seutuhnya kepada anggota individu, sehingga nilai utilitas bagi agen-i menjadi sebesar

Ui = Yi + βi λG RG

Persamaan 5. Persamaan Utilitas Pendapatan Individu-i

(Working Paper BFI, 2003 hal.5)

Model sederhana diatas menunjukkan jalur pembagian sumber daya dari pemerintah pusat sampai level individu, sehingga individu dapat merasakan keuntungan dari keberadaan sumber daya pada wilayahnya meski proporsi tiap individu tersebut tidak sama. Model tersebut juga menunjukkan pola-pola hubungan antara pemerintah pusat-kelompok-individu.

Berhubung karena sifat organisasi paryasop adalah non-profit maka model diatas sangat sulit diimplementasikan, akan tetapi jika kita menganalogikan pembagian sumber daya diatas misalnya adalah “jasa”, maka bisa dianalisis pola-pola hubungan yang mungkin terjadi dalam organisasi Paryasop.

Dari model diatas dapat diamati bahwa tiap individu-i Paryasop akan menghadapi beberapa masalah :

  1. Pembagian proporsi yang tidak adil oleh pemerintah pusat Paryasop (UG) terhadap kelompoknya. Hal ini bisa kita lihat dari fenomena beberapa wilayah basis massa Paryasop sering sekali merasa tidak diperhatikan, misalnya wilayah Medan, sitolu-ama “DEL”, Jawa Tengah, Jawa Timur, Palembang, Jambi, dll.

Bagaimana mungkin seorang individu-i dapat memiliki “militansi” yang kuat (contoh : menyumbangkan “jasa”nya) terhadap Paryasop jika organisasi Paryasop tidak pernah memperhatikan individu tersebut? Justru penyikapan individu yang sering terjadi saat ini (mungkin kedepannya juga) adalah “penolakan” bekerjasama, “ketidakpedulian” anggota terhadap organisasinya.

Mari kita jawab bersama-sama, saya kira ada motif rasional lainnya yang bisa dibahas daripada sekedar menyampaikan gagasan berdirinya Paryasop hanyalah atas dasar kesamaan senasib sepenanggungan.

  1. Pembagian proporsi yang tidak adil oleh kelompok-nya melalui delegasi βi terhadap individu anggota kelompoknya. Hal ini bisa kita lihat adanya orang-orang dalam satu wilayah yang tidak merasakan keberadaan sumber daya kelompoknya, contohnya beberapa anggota Paryasop-Bandung merasa tidak diperhatikan oleh organisasinya, kenapa hal ini bisa terjadi? Jangan berharap setiap anggota kelompok wilayah Bandung dapat menyumbangkan waktu, tenaga, dan pikirannya akan tetapi Paryasop–Bandung tidak melakukan apa-apa terhadap individu tersebut.

  1. Gabungan masalah 1 dan 2.

Cat : Sebenarnya saat ini dan ke depannya, bagaimana cara kita memandang permasalahan pola-pola hubungan dalam tubuh Paryasop?

4. Analisis dan Diskusi

Model diatas termsuk model tindakan bersama tiga-level, yakni level individu atau anggota, level kelompok delegatif, dan level pemerintah pusat. Dari model tersebut terlihat bagaimana terjadi kontrak sosial yang direpresentasikan oleh sistem delegatif dari anggota kelompok ke pemimpin kelompoknya yang pada akhirnya akan membentuk konsensus berdirinya Paryasop.

Setelah terjadi kontrak sosial, kita melihat adanya tiga level utilitas yang terjadi, yakni utilitas individu yang membentuk pelayanan anggota, utilitas kelompok atau delegasi sebagai representasi dari individu, dan utilitas pemerintah pusat. Pada masing-masing fungsi utilitas tersebut terlihat bagaimana ketiganya saling mempengaruhi. Setelah Paryasop berdiri, keputusan dari masing-masing level aksi adalah permasalahan bagaimana membagi kekuasaan atas sumber daya (pada level pemerintah pusat dan delegasi) dan bagaimana aktifitas layanan publik yang dirasakan oleh individu sebagai anggota organisasi (pada level individu).

Dengan sendirinya, evolusi kontrak sosial menjadi sangat bergantung kepada aspirasi oleh individu kepada delegasi yang sampai kepada pemerintah pusat serta layanan publik yang dirasakan individu/anggota organisasi.

Jika delegasi tidak mampu merepresentasikan aspirasi anggota maka kekacauan akan terjadi dan kesinambungan organisasi akan bergerak menuju titik kritis. Pada titik kritis ini merupakan batas ambang ketika individu mulai berfikir untuk melepaskan diri dari kontrak sosial yang dibuat pada saat awal pendeklarasian berdirinya Paryasop.

Dari sini terlihat bahwa peran individu sangat penting dalam terjadinya tindakan kolektif kelompok dalam penentuan nasib kontrak sosial Paryasop di kemudian hari. Jika titik kritis mencapai batas ambang, maka dengan sendirinya kontrak sosial akan dibatalkan dan keutuhan serta stabilitas organisasi menjadi terancam. Untuk meredam hal ini, faktor-faktor layanan publik harus terpenuhi dan delegasi juga memiliki kekuatan di kelompoknya serta harus kooperatif terhadap pemerintah pusat. Ini merupakan faktor penting dalam Evolusi-Paryasop (apakah penguatan atau pelemahan) dari sebuah kontrak sosial dalam tubuh alumni Yasop.

Berdasarkan pengertian ini kita dapat memahami bahwa contoh pelemahan (hancurnya) kontrak sosial Paryasop adalah inefisiensi pemerintah pusat, seperti ketidakjelasan regulasi roda pemerintahan organisasi, layanan publik yang dirasakan anggota sangat minim, eksploitasi sumber daya yang tidak tepat dan sebagainya.

5. Beberapa catatan simpulan

Dari uraian diatas, kita dapat melihat bahwa kerja sama dan tindakan bersama (collective action) dalam perspektif lahirnya kontrak sosial bukanlah persoalan adanya pra-kontrak atau aturan kontrak sosial, karena pada realitanya kita telah melihat bahwa kontrak sosial dapat timbul dari representasi dengan adanya fungsi delegasi, yang direpresentasikan dengan adanya personifikasi delegasi yang membawa suara publik. Hal ini jelas sekali tercermin dalam sejarah kontrak sosial di Indonesia pada masa awal kemerdekaan dengan kondisi geografisnya sangat memerlukan peranan delegasi dalam pembentukan kontrak sosial. Bukan tidak mungkin dengan adanya fungsi utilitas delegasi ini akan membawa dampak yang positif bagi lahirnya pola-pola kerja sama dari agen-agen yang non-kooperatif pada awalnya. Dalam konteks yang lebih jauh kita dapat mengamati yakni bagaimana kontrak sosial paryasop ber-evolusi.

Melalui paparan ini, dapat juga terlihat dengan jelas bahwa pemerintah pusat Parysop memang sangat perlu memperhatikan keterhubungan individu dan sistem delegatif yang mungkin terbentuk. Dalam tubuh organisasi Paryasop jalur delegatif tidak bisa dipandang hanya berdasarkan basis kewilayahan, jalur angkatan, jalur legal formal legislatif yang terbentuk di AD/ART Paryasop. Akan tetapi jalur delegasi dapat berupa kelompok-kelompok kecil dimana individunya memiliki kesepakatan dan kesepahaman untuk mencapai tujuan tertentu, dapat berbasis kompetensi keilmuan, berbasis primordialis seperti etnis atau agama, berbasis hobby, berbasis status mahasiswa dan non-mahasiswa, dan sebagainya. Tinggal sekarang bagaimana pemerintah pusat Paryasop dapat melakukan manajemen pelayanan publik sebaik mungkin, memetakan pola sistem delegatif agar sistem delegasi anggota dapat terdeteksi pada jalur formal sehingga ikatan persaudaraan, perasaan senasib sepenanggungan dapat terbentuk secara rasional hingga ke level individu.

6. Confession dalam artian pengakuan atas dasar kesadaran

Pembuatan tulisan ini terinspirasi setelah membaca dan mengkaji berbagai jurnal yang dihasilkan Bandung Fe Institut (Research University on Complexity in Indonesia). Dan tidak menutup kemungkinan penggunaan kata dan kalimat yang banyak mengandung kemiripan. Adanya kemiripan penggunanaan kata dan kalimat semata-mata sebagai akibat ketidaksempurnaan penulis terkait kemampuan, skill, dan latar belakang jenjang pendidikan, tanpa bermaksud menumbuhkembangkan mentalitas plagiatorisme. Pembuatan tulisan ini semata-mata hanya untuk mengembangkan cakrawala berpikir penulis, tidak untuk tujuan profit, dan sedikit usaha untuk berkontribusi pada perkembangan dan pertumbuhan sistem organisasi yang sinergis pada almamater Paryasop. Tulisan ini juga dibuat tanpa adanya dukungan finansial dari manapun, dan sebenarnya mengharapkan adanya dukungan finansial dalam pengembangan lebih lanjut agar tulisan ini dapat lebih aplikatif, orisinil, dan berbunyi.

Untuk informasi yang lebih lengkap terkait rujukan dan kepustakaan tulisan ini, anda dapat mengakses http://www.bandungfe.net/hs/kosos1.pdf

Bandung, 27 Februari 2008

….malam-malam panjang yang dingin ditemani kopi dohot sigaret ditambah nikmatnya akses internet gratis…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sewaktu salah satu reporter televisi asing berhasil mewawancarai salah satu tokoh penting organisasi teroris besar, reporter tersebut menanyakan mengapa tampaknya organisasi tersebut tidak takut sama sekali dengan “barat”, bahkan mereka seakan mau mempertaruhkan apa saja demi tercapainya cita-cita mereka. Salah satu contoh yaitu ketika mereka berhasil melancarkan serangan 11 September yang pasti menempuh risiko yang amat sangat besar. Bertolak pada “keberhasilan” mereka itu, bukan tidak mungkin “barat” juga masih harap-harap cemas dengan keberadaan organisasi ini beserta jaringan-jaringannya yang lain.

 

Setelah terdiam sebentar, si tokoh menjawab dan kira-kira seperti ini lah jawabannya: ” Itu karena kami tidak takut terhadap kematian sementara mereka terlalu mencintai  kehidupan.”

 

Jawaban di atas mungkin tidak pernah terpikirkan sebelumnya. Namun memang benar bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari hidup dan mati. Apakah kita juga memilih menjadi orang yang terlalu mencintai kehidupan dan takut pada kematian ? Ataukah kita mungkin takut pada hidup dan malah mencintai kematian mungkin untuk kasus ini akan sangat jarang).

Pribadi Kristen adalah seseorang yang tahu bahwa kematian di dunia bukan akhir segalanya sebab kehidupan yang lebih berharga telah menanti setelah melalui terminal kematian. Bukan maut yang menunggunya tapi janji akan kekekalan.

Apakah Jaminannya?

Kebangkitan Kristus. Kristus telah mati namun bangkit dan mengalahkan maut itu yang tidak lagi akan menguasai orang-orang yang beriman kepadaNya. Minggu-minggu ini kita akan menantikan Peringatan Jumat Agung dan Paskah. Mari mempersiapkan diri kembali untuk menghayati pengorbanan Kristus di kayu salib dan kemenangan atas kebangkitan-Nya. Kematian Kristus telah menghidupkan orang-orang yang percaya kepada-Nya dan janji kehidupan itu termateraikan dengan kebangkitan-Nya.

 

Jangan lupa doakan dan hadirilah

PASKAH PARYASOP

12 April 2008

Pukul 17.00

Tempat ( dalam konfirmasi)

 

Salam

Panitia Paskah Paryasop 2008

family-day1.jpg

100_5560.jpg

AND THE STORY:

by: OINIKE HUTASOIT

25 Jan 08 : suasana milis angkatan 01 tampak rame, memastikan setiap seksi da tau apa yang dikerjakan. malam harinya terjadi kehebohan di suatu tempat ketika tiga orang seksi acara tampak sibuk memastikan semua kebutuhan untuk acara, merencanakan hal2 teknis dan detail… sesekali terdengar tawa riuh, ada yang sudah mengantuk, rasanya mata dan badan ini tidak bisa diajak bekerjasama lagi,,,bagaimana jadinya acara ini besok???

 

di tempat lain, dua orang teman sedang heboh dengan konsumsinya, mempacking semua konsumsi dalam kotak2 kecil untuk 2 x snack. malam semakin larut tapi tampaknya pekerjaan blom selesai,, blom lagi besok harus bangun pagi,,,, aargggggggghhhhhh rasanya ingin cepat semua ini berlalu….

pulang dari kantor, ada yang buru2 mempersiapkan bahan presentasi, memastikan semua order dari seksi yang lain terlaksana,, karna di saat menjelang hari H selalu saja ada hal yang harus dibereskan…

 

akhirnya saat2 yang ditunggu2 tiba,, pagi2 panitia berangkat bareng di pool yang tersedia sambil sebelumnya membeli benda2 kecil yang terpikir dibeli ketika melewati toko stationery,,

perjalanan relatif lancar dan sampai di lokasi fam day di taman wiladatika sudah mulai terjadi kehebohan,, mana spanduknya?? mana ini mana itu,, ada yang gladi resik,, pokoknya semua orang yang tadinya nyantai menjadi heboh sendiri, he he he

 

ada yang mulai menagih kontribusi,, ada yang sedang membungkus kado dan banyak ekspresi yang terekam saat itu,,sampai satu persatu anggota paryasop datang dan ketika pukul 10 pagi kebaktian bona taon pun dimulai,,, semua berjalan lancar dan menyenangkan,, ketika pembicara sedang membagikan firtu, hujan deras turun dan aq mensyukuri hujan itu karena suhu ruangan yang sudah sempat buat semua orang gerah dan berkeringat berhasil menenangkan semua orang,, angin sejuk pun berhembus dan itulah inti dari kebaktian ini, bagaimana akhirnya kita semua bisa mensyukuri setiap hal dalam hidup ini dengan cara yang sederhana,, seperti kata pembicara,, kita bersyukur masih bisa bernafas tanpa membawa tabung oksigen kemana2,, kita masih memiliki penglihatan yang baik, pendengaran yang sempurna,, dan banyak hal yang bisa kita syukuri di awal tahun ini…

 

setelah kebaktian,, qta diajak untuk melihat sejenak foto2 teman kita yang kembali ke asrama yasop,,bersyukur buat keberadaan mereka disana dan mengingatkan qta hal2 yang bisa kita berikan ke yasop itu bukan hanya dana, tapi juga diri dan tak ketinggalan doa,,,dan kita juga mendapatkan sepucuk surat cinta dari anak2 yasop, berisi harapan2 mereka buat kita PARYASOP,, smoga kita bisa menjadi jawaban buat harapan2 mereka itu…AMIN.

 

waktunya untuk makan siang,, karna ada beberapa yang da konfirm tapi ga jadi datang (sayang sekali), maka para anak kost tampaknya tidak melewatkan kesempatan untuk menambah porsi makan siangnya, ha ha ha

 

acara fun pun dimulai ketika perut kenyang dan hawa2 malas menggerogoti badan ini, saatnya untuk tertawa dan bermain games.. dimulai dengan ice breaking games, Aram sam sam sam,,, semua tampak senang dan tertawa,, mood peserta semakin membaik dan terlihat antusias,, kemudian game sekoci,, dimana ke’ego’an orang2 akan terlihat, seperti layakny naik sekoci ketika titanic tenggelam,, ada yang mengusir yang lain karna sekocinya da penuh,, (pastinya suasananya berbanding terbalik dengan suasana titanic) , disini orang2 tertawa dan banyak yang berjanji akan selalu bersama (cie,, korsa juga ini ) berapapun jumlah orang dalam sekocinya, alhasil pasti ada yang kelebihan dan kekurangan anggota dalam sekoci,, di games ini berkeluaranlah bakat2 dancer PARYASOP, dari mulai yang mati gaya sampai yang jago goyang dangdut,,, lengkap bo

 

setelah itu peserta dibagi dalam 5 kelompok dengan nama2 kelompok yang aneh.

ada MIBUNG tadinya singkatan dari minggir bung eh,, ga taunya jadi mikir bung karna sering kalah dalam games (hampir memecat pengawas gamesnya,, mereka bilang mereka dizolimi oleh pengawas padahal mereka yang menzolimi pengawas)

ada OMPRENG yang hobi ngompreng di asrama ( cape deh)

ada Selasar merah yang jadi tempat dating di asrama…

ada SERUNI terinspirasi dari nama gedung tempat acara fam day ini

dan yang terakhir APPEL malam yang sangat lama bikin yel2,,he he he

 

acara gamesnya pastinya seru bo, semua tampak menikmati walopun saat itu matahari sangat terik dan menyengat… terima kasih teman2 tuk semangatnya,, anda senang panitia pun bahagia

tak terasa momen kebersamaan fam day akan berakhir, ditutup dengan pengumuman pemenang games, pembagian door prize,, dan pemberian hadiah untuk angkatan yang paling banyak datang di luar angkatan 01 yang jadi panitia, pemenangnya adalah angkatan 2006 setelah sebelumnya seri dengan angk 2005,, karna jumlah kehadiran mereka sama,,

 

acara pun ditutup dengan doa penutup dan kemudian sesi pemotretan, kemudian para peserta membubuhkan tanda tangan di spanduk fam day,,,

 

smoga acara ini memberikan suasana yang baru buat PARYASOP,, dan pastinya nyesel banget buat yang ga datang,,, qta tunggu kreatifitas selanjutnya dari PARYASOP untuk buat acara yang seru2,, yang paling penting tujuan acara ini tercapai dari kita oleh kita dan untuk kita

finally, moga semangat itu tetap ada di dalam hati qta. The Spirit Lives On,,,,

 

Makasi buat semua yang sudah berpartisipasi,,, sekian cerita dari saya,, lain kali disambung lagi dalam suasana yang berbeda

AND THE PHOTOS:

100_5465.jpg100_5474.jpg100_5475.jpg

100_5478.jpg100_5480.jpg100_5495.jpg

100_5540.jpg100_5531.jpg100_5531.jpg
100_5539.jpg100_5538.jpg100_5536.jpg

100_5522.jpg100_5521.jpg100_5515.jpg

100_5498.jpg100_5497.jpg100_5585.jpg

100_5583.jpg100_5575.jpg100_5563.jpg

100_5561.jpg100_5557.jpg100_5551.jpg

100_5550.jpg100_5542.jpg100_5620.jpg

100_5625.jpg100_5659.jpg100_5660.jpg

100_5667.jpg100_5689.jpg100_5706.jpg

100_5708.jpg100_5710.jpg100_57181.jpg

« Previous PageNext Page »