December 2008


Setiap Tahun di Bulan Desember kita selalu disibukkan dengan perayaan Natal . Persiapan untuk natal bukan hanya dilakukan oleh orang Kristen dan Gereja saja, tapi oleh semua orang dan pusat perbelanjaan, bahkan sampai Ikan Hiu pun merayakan Natal di Sea world.

Apakah Natal hanya sekedar pesta dan perayaan ? Natal sekarang indentik dengan baju baru, sepatu baru, dan lain-lain, sehingga tidaklah mengherankan jika banyak pusat perbelanjaan menawarkan “Christmas Sale” dan berbagai macam promosi untuk menarik orang berbelanja. Apakah Natal harus penuh dengan kemewahan ?

Ketika Natal pertama kali dilakukan adalah suatu natal yang sederhana. Bukan Maria dan Yusuf tidak mampu, sehingga memilih sebuah kandang dan palungan untuk istri dan anaknya. Atau apakah Allah tidak mampu memilih “Maria” lain yang merupakan seorang puteri Raja atau bangsawan, sehingga Yesus sebagai Putra Allah mendapatkan tempat yang lebih layak. Namun Natal melambangkan suatu sikap rendah hati dan kerelaan mau berkorban atau memberi untuk orang lain.

Ketika Natal kita mengetahui makna Natal adalah waktu memberi bagi orang lain. Apakah yang telah kita berikan, untuk sesama kita dan Tuhan ? Ada tiga hal yang patut kita pikirkan dalam hal “memberi” yakni berikan dirimu kepada Tuhan, yang kedua berikan dirimu kepada sesamamu, dan yang ketiga adalah memberi harta kita untuk orang lain.

Pertama Berikan dirimu untuk Tuhan. Tujuan utama Kristus lahir di dunia ini adalah memberikan keselamatan bagi orang yang percaya pada-Nya. Ketika kita menjadi “orang-orang yang diselamatkan” , namun tidak menyerahkan diri kita sepenuhnya untuk “dipakai” oleh Tuhan, maka apa artinya keselamatan yang kita peroleh. Natal melambangkan sikap rendah hati dan kerelaan mau berkorban untuk orang lain. Sudahkah kita dengan sikap rendah hati dan rela untuk dibentuk oleh Tuhan terlebih dahulu, sehingga kita dapat “dipakai” oleh-Nya untuk orang lain bagi kemuliaan nama-Nya ?

Kedua Berikan dirimu Kepada sesamamu. Seringkali kita sebagai orang Kristen menjadi seorang yang egois, yang tidak pernah “memberikan” keselamatan yang kita peroleh untuk orang lain. Jangankan untuk orang lain, untuk saudara seimanpun kita seringkali terlalu egois. Tidak pernah menjadi sahabat bagi saudara seiman kita. Terlalu banyak pertimbangkan untuk bersahabat, padahal dia adalah saudara seiman. Terlalu banyak orang merasa kesepian dan hampa di sekitar kita, termasuk dalam gereja dan Lingkungan dimana kita berada. Ingat natal adalah melambangkan suatu sikap rendah hati dan kerelaan mau berkorban atau memberi untuk orang lain. Sudahkah kita melakukannya, walaupun itu adalah orang yang paling kita benci ?

Ketiga memberi harta bagi orang lain. Natal adalah moment yang tepat untuk memberi, namun seringkali orang terjebak dengan moment. Jika bukan Natal , jarang sekali kita orang Kristen mau memberi. Padahal begitu banyak orang-orang yang mengalami kemiskinan dan kesusahan, yang memerlukan bantuan anda tidak hanya di Hari Natal saja. Ketika kita diberikan sedikit harta duniawi, sudah kita menyisihkan sedikit untuk mereka yang susah ? Saya jadi teringat dengan kata-kata pengemis kecil dalam bis, Gope (500) dan Ceceng (1000) tidak membuat anda menjadi miskin. Sudahkah kita mempunyai hati yang tulus dalam memberi ?

Marilah Kita jadikan moment Natal tahun ini, membuat kita memikirkan kembali makna Natal dan sesungguhnya, dan biarlah di tahun ini Natal itu lahir dalam hati kita semua. Biarlah Kita menjadikan diri kita “hadiah Natal ” terindah buat orang lain, dengan kehadiran kita sebagai sahabat dan melalui harta yang kita miliki , bukan hanya di Hari Natal . Namun setiap hari dalam hidup kita adalah natal untuk orang lain.

Kakak, abang, teman-teman dan adik-adik kami, jangan lupa kita punya acara natal bersama yang akan diadakan pada :

Hari/ Tanggal : Sabtu/ 13 Desember 2008
Pukul               : 18.00 ( 6 sore WIB )
Tema               : It’s Time to Give
Pembicara      : Pdt. Victor Mangapul Sagala D.Th
Tempat           : Gereja HKBP Sudirman Jakarta

Be there yah…dan please meneruskan publikasi ini ke milist angkatan masing-masing.

Sedikit curahan hati panitia …
Saat ini dana yang terkumpul belum masih kurang dua juta . Oleh karena itu jika teman-teman ada yang berkenan memberika persembahan jangan ragu melirik kembali proposal Natal yang sudah dipublikasikan. Di sana tertera no. rekening dan kontak perwakilan panitia.
Hmmm……….tidak sabar untuk berkumpul bersama .

God bless
Panitia Natal 2008

Pada malam Natal sebelas tahun yang lalu, anak-anak perempuan kami
memberikan hadiah yang sangat istimewa. Begitu istimewanya hadiah
itu sehingga sampai sekarang tetap menjadi berkat dari tahun ke
tahun.

Julie dan Jennifer masing-masing berusia enam dan delapan
tahun.
Anak laki-laki kembar kami, John dan Jeremy, belum genap berusia dua
tahun. Saya ingat, waktu itu saya merasa lelah. Anak kembar kami
terus-menerus meminta perhatian. Namun, saya masih dapat mengerjakan
tugas-tugas yang biasa saya lakukan pada Hari Natal. Pohon Natal
yang tinggi sudah
selesai dihias, hadiah-hadiah sudah dibungkus
rapi. Makanan sudah disiapkan. Pintu juga sudah dihias. Hadiah untuk
anak-anak sudah dipilih dengan teliti.

Saya lelah, tetapi gembira. Julie mencegat saya di dapur. “Bu,
Jennifer dan saya mempunyai hadiah untuk Ibu dan Ayah. Tetapi hadiah
itu bukan hadiah biasa yang dapat dibungkus. Kami ingin Ayah dan Ibu
duduk memangku adik-adik supaya kami dapat memberikan hadiah itu.”
Sebenarnya masih ada yang harus saya kerjakan, dan saya tidak mau
duduk-duduk pada waktu itu. “Ayolah, Bu,” Julie memohon, “hanya
beberapa menit saja.” Saya mengalah dan memanggil suami saya.
Perlu
usaha yang cukup keras juga supaya kedua anak kembar kami dapat
duduk tenang di pangkuan. Tetapi akhirnya kami siap. Julie dan
Jennifer berdiri dengan gugup di dekat tungku, saling berpegangan
tangan. Mereka memakai baju panjang flanel kepunyaan nenek berwarna
merah, dan memakai topi kecil
penutup debu yang sesuai. “Sebelumnya,
lampu-lampu harus dimatikan,” kata Julie dengan suara yang
mengundang rasa ingin tahu. “Kami hanya ingin lampu pohon Natal itu
yang bersinar,” kata Jennifer menjelaskan.

Dengan pandangan lurus ke depan, mereka
menyanyikan lagu “Malam
Kudus”. Lalu Julie mendeklamasikan sebuah puisi tentang kasih Allah.
Setelah itu, Julie berkata kepada ayahnya, dengan nada malu-malu,
“Maukah Ayah membacakan cerita Natal dari Alkitab tentang kelahiran
Yesus? Guru Sekolah Minggu kami membacakannya hari Minggu yang
lalu.”

Jerry  mengambil Alkitabnya dan membacakan cerita itu, ia mendekati
pohon Natal supaya dapat melihat dengan jelas. Kami semua
mendengarkan. Bahkan kedua anak kembar kami juga diam dan duduk
dengan tenang. Setelah Jerry selesai membaca, Julie berkata sangat
pelan sampai kami hampir tidak dapat mendengarnya, “Sekarang
dapatkah kita berdoa bersama?”

Kami belum pernah mengadakan kebaktian keluarga, karena itu kami
ragu-ragu bagaimana memulai doa. Tetapi, meskipun begitu
kami satu
per satu berdoa bergantian. Pada saat itu saya menyadari sesuatu
yang istimewa terjadi dalam keluarga kami [Red; karena Guru SM!!].
Melalui hadiah yang diberikan kedua putri kami, kami belajar bahwa
kami dapat berdoa bersama. Jadi selama tahun-tahun berikutnya kami
tetap mengadakan
kebaktian keluarga, tidak hanya pada Hari Natal,
tetapi sepanjang tahun.

Hadiah pemberian kedua putri kami pada malam Natal itu merupakan
karunia iman. Sejak itu hadiah tersebut membuat kami bertumbuh dan
menopang keluarga kami. Hadiah itu merupakan
pemberian yang tetap
menjadi berkat.

Sumber:
Judul Buku   : Kisah Nyata Seputar Natal
Judul Artikel: Rahasia Memberi dengan Sukacita
Pengarang    : Marion Bond West
Penerbit     : Yayasan Kalam Hidup, Bandung, 1998

Kakak, abang, teman-teman dan adik-adik kami, jangan lupa kita punya acara natal bersama yang akan diadakan pada :

Hari/ Tanggal : Sabtu/ 13 Desember 2008
Pukul               : 18.00 ( 6 sore WIB )
Tema               : It’s Time to Give
Pembicara      : Pdt. Victor Mangapul Sagala D.Th
Tempat           : Gereja HKBP Sudirman Jakarta

Be there yah…dan please meneruskan publikasi ini ke milist angkatan masing-masing.
Regards
Panitia Natal 2008

Bacaan: Lukas 4:14-21

Dalam perjalanan menuju Museum Seni Metropolitan di New York pada bulan Desember, saya berhenti sejenak untuk mengagumi pohon Natal yang menakjubkan. Pohon itu dihiasi boneka malaikat dan dasarnya dikelilingi oleh patung-patung dari abad ke-18 yang menggambarkan kelahiran Kristus. Jumlahnya hampir 200 patung. Di antaranya terdapat para gembala, orang majus, dan penduduk kota . Mereka memandangi palungan dengan penuh harap atau menatap para malaikat dengan takjub.

Namun, ada satu patung yang tampak berbeda dari yang lainnya, yaitu patung pria tanpa alas kaki, yang membawa beban berat di punggungnya dan menundukkan kepala. Hati saya tersentak. Pria ini seperti kebanyakan orang saat ini, yang sangat berbeban berat sehingga tidak dapat melihat Sang Mesias.

Natal dapat menjadi saat yang tidak menyenangkan bagi mereka yang menderita karena beban kerja yang berat, ketegangan dalam keluarga, dan kehilangan. Namun, patut diingat bahwa Kristus datang ke dunia ini untuk mengangkat kepala orang yang tertunduk karena beban berat. Yesus mengutip perkataan Yesaya untuk memberitahukan misi yang diberikan Allah kepada-Nya bagi dunia: “Untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; … untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas.” (Lukas 4:18,19)

Yesus datang untuk mengangkat beban kita sehingga kita dapat mengangkat kepala kita untuk menyambut-Nya saat Natal tiba.
(David McCasland)

Teman-teman tak akan bosan-bosan panitia Natal paryasop 2008 mengharapkan dukungan doa dan kehadirannya pada Acara Natal Paryasop 2008:

Hari/ Tanggal : Sabtu/ 13 Desember 2008
Pukul               : 18.00 ( 6 sore WIB )
Tema               : It’s Time to Give
Pembicara      : Pdt. Victor Mangapul Sagala D.Th
Tempat           : Gereja HKBP Sudirman Jakarta

Bagi teman-teman yang memiliki milist angkatan please teruskan publikasi ini ke milist masing-masing kalau-kalau ada alumni yang tidak bergabung di milist alumni Yasop.

Thx and Love in Christ
Panitia Natal 2008

Phylis bukan anak yang mudah untuk dikasihi. Saya menginginkan
yang terbaik baginya dan saya berdoa supaya Tuhan memberkatinya,
tetapi kadang-kadang saya memang berharap ia tidak termasuk dalam
kelompok Sekolah Minggu yang saya ajar. Rambutnya tidak pernah
disisir, kuku tangannya kotor, dan hidungnya beringus. Ia menjauhi
anak-anak yang lain dan kalau berjalan ia biasa menghentak-hentakka n
kakinya. Selain itu, ia adalah seorang anak perempuan yang tidak
pernah bisa duduk tenang, ia benci disentuh, dan kalau berbicara ia
selalu tak mau mengalah.

Waktu itu saya berumur dua puluh tahun, dan tahun itu untuk
pertamakalinya saya mempersiapkan sandiwara di gereja tua yang
besar, Gereja Baptis Tabernakel di sebelah barat Chicago. Pada
permulaan masa Advent, saya memegang lembaran ketikan naskah
sandiwara Natal sambil berdiri di depan anak-anak yang berkumpul.

“Siapa yang mau mendapat peran yang terlibat dalam percakapan,
angkat tangan,” kata saya, dan hampir semua anak mengangkat
tangannya. Tetapi, tentu saja tidak termasuk Phylis. Dan setelah
membagikan peran untuk setiap anak yang berminat, saya masih
mempunyai beberapa peran.

“Phylis,” kata saya, “maukah kamu mengucapkan sedikit kata-kata
dalam sandiwara Natal?”

“Siapa bilang saya mau ikut sandiwara?” katanya, sambil
menyilangkan tangannya di depan dada dan duduk miring ke belakang
sehingga kursinya hanya bertumpu pada ke dua kaki belakangnya.
“Pada malam yang sama mungkin saya pergi ke pesta,” katanya dengan
angkuh.

Tuhan, saya berdoa dalam hati, tolonglah saya untuk mengasihi
Phylis. “Tetapi kalau mau, saya masih mempunyai beberapa peran.”
“Tidak akan,” kata Phylis dan memang ia tidak mau.

Pada waktu gladiresik sore hari, anak-anak duduk di bagian
depan bangku gereja yang digelapkan. Mereka berbisik-bisik,
sementara itu orang-orang dewasa merapikan penutup kepala gembala-
gembala yang dibuat dari handuk mandi dan menyempurnakan letak
lingkaran cahaya yang terbuat dari perada di sekeliling malaikat-
malaikat.

“Baiklah ambil tempat masing-masing, ” teriak saya dari balik
altar. Pembawa cerita mulai: “Pada waktu itu, dikeluarkan suatu
keputusan …” Saya merasakan desiran getaran halus. Sekali lagi
saya terbawa ke dalam cerita yang indah ini.

“Maria tidak kelihatan seperti mau melahirkan bayi,” tiba-tiba
terdengar gumaman pelan yang serak di belakang saya. Phylis memang
tidak mau ikut sandiwara, tetapi tentu ia tidak mau melewatkan
gladiresik! “Ssst! bisik saya, sambil menepuk tangannya. Ia
merenggut tangannya dan berkata, “Iya, iya!”

Di akhir adegan itu lampu sorot hanya menyinari keluarga yang
kudus itu, dan anak-anak bersenandung menyanyikan lagu “Malam
Kudus”. Bagus sekali – tetapi siapa yang bergerak di depan
palungan? Phylis! Anda tidak tahu dimana anak itu akan muncul.
Sekarang ia memasukkan tangannya ke dalam palungan, meremas tangan
boneka yang ada didalamnya, dan menghilang di tengah kegelapan.

“Phylis,” kata saya, “apa yang kau lakukan di sana?
“Saya hanya melihat-lihat. ” katanya. “Lagipula di dalamnya
bukan bayi. Hanya sebuah boneka. Saya menyentuhnya. “
“Tuhan tolonglah saya untuk mengasihi Phylis.”

“Baiklah,” kata saya kepada para pemain. “Setiap orang harus
sudah ada di sini jam setengah tujuh untuk berganti pakaian dan
bersiap-siap supaya dapat dimulai tepat jam tujuh. Sampai nanti
malam.”

Phylis menghentakkan kakinya di sepanjang jalan di antara
deretan tempat duduk, bersama anak-anak yang mau pulang. Mudah-
mudahan pikir saya, ia sudah puas melihatnya sore ini dan tidak
kembali malam nanti. Saya tahu pikiran seperti ini bukan sikap
seorang guru Kristen, tetapi saya benar-benar mengharapkan supaya
sandiwara itu berjalan dengan lancar.

Sekitar jam 18.45 suasana di balik panggung ramai dan sibuk.
Para malaikat saling membantu mengenakan jubah yang terbuat dari
sprai. Yusuf dan orang-orang majus mengatur kawat janggut yang
dikaitkan di belakang telinga mereka. Maria memandang ke cermin
mencoba untuk menangkap eksprsi yang tepat sebagai ibu Juruselamat.
Saya berjalan dari kelompok yang satu ke kelompok yang lain,
membantu sebisa mungkin. Phylis tidak terlihat dan saya mulai
tenang.

Satu menit sebelum jam tujuh, Ny. Wright masuk. Ia menggendong
bayinya yang mungil yang baru lahir. Bayinya terbungkus kain putih,
bayi ini akan mengganti boneka yang kami pakai dalam gladi resik.
“Bayi ini baru disusui,jadi ia akan tidur selama sandiwara.”
katanya. “Anda dapat menaruhnya di palungan sesudah lampu
dipadamkan,” bisik saya.

Ketika suara piano mulai terdengar, saya duduk di kursi saya
yang disediakan untuk juru bisik di barisan depan bangku gereja.
Diiringi dengan alunan musik pembuka. Palungan disoroti cahaya lampu
dan pembawa cerita memulainya.

Tetapi tidak ada rasa getaran seperti biasanya apabila saya
mendengar awal cerita Natal, saya malahan merasakan sesuatu yang
menghantam dan mendorong lutut saya. “Geser,” terdengar suara yang
sudah saya kenal betul. “Saya tidak jadi pergi ke pesta.”

Tanpa melepaskan pandangan dari sandiwara yang sedang
berlangsung, saya bergeser dan menepuk lutut Phylis. Tetapi ia
menepiskan tangan saya kembali ke pangkuan saya. “Saya berusaha,
ya Tuhan,” kata saya dalam hati.

Para malaikat bernyanyi di depan para gembala. Para gembala
kembali ke Betlehem dan mengambil anak domba untuk dipersembahkan
kepada bayi Yesus. Orang-orang Majus menghadap raja Herodes, lalu
mereka pergi ke palungan. Maria duduk di palungan “menyimpan segala
perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya” . Bagus sekali.
Phylis duduk dengan tenang sampai saya lupa ia berada di sebelah
saya, tetapi waktu saya menyadari ia sudah pergi, sudah terlambat.

Ia menghentakkan kakinya menuju palungan seperti yang dilakukan
waktu gladi resik. Tetapi kali ini ia terkejut, terpesona, lalu
membalik, matanya terbelalak takjub, dan cepat-cepat kembali
menemui saya.

“Dia hidup!” bisiknya dengan suara yang cukup keras. Dari
barisan tempat duduk di sebelah seseorang bertanya “Apa katanya?”
“Katanya, ‘Dia hidup!’” Seperti riakan air kolam, kata-kata itu
diteruskan dari barisan demi barisan sampai kembali lagi ke depan
altar. “Dia hidup … hidup … hidup…” Suasana menjadi gempar
karena setiap orang merasakn hadirat Yesus.

Dan itu adalah alasan sebenarnya dari apa yang kita rayakan.
Dia hidup! Imanuel – Tuhan beserta kita. Tuhan yang sudah menjelma
menjadi manusia. Anak perempuan yang keras dan sukar dikendalikan
sudah membawa kembali pesan Natal yang agung. Tuhan hidup!

Lampu dinyalakan, dan waktu kami berdiri menyanyi “Kesukaan
bagi dunia”, suara itu menggetarkan gereja kami yang besar dan tua,
dan itu belum pernah terjadi sebelumnya.

Saya menaruh lengan saya di sekeliling bahu Phylis yang kecil
dan sempit. “Kamu adalah bagian yang terbaik dari sandiwara ini,”
bisik saya, sambil menariknya ke arah saya. Phylis menjawab, “Saya
tidak ikut sandiwara,” katanya. Tetapi kali ini ia tidak mendorong
saya.

Sumber:
Judul Buku: Kisah Nyata Seputar Natal
Penerbit : Yayasan Kalam Hidup, Bandung
Penulis : Doris Swehla
Halaman : 84 – 87

Kakak, Abang, teman-teman dan adik2 alumni Yasop, jangan lupa mendoakan persiapan Ibadah Natal ParYasop dan menghadirinya, yang akan diadakan pada :

Hari/ Tanggal : Sabtu/ 13 Desmber 2008
Pukul : 18.00 ( 6 sore )
Tempat : Gereja HKBP Sudirman Jakarta
Pembicara : Pdt. Mangapul Sagala D.Th

Salam kasih,
Panitia Natal 2008