100_5403.jpg

Dikutip dari Harian SIB (Relieve Pasraribu/g)


TB Silalahi Centre yang akan diresmikan pada bulan April tahun 2008 atau bertepatan dengan hari ulang tahun Letjend (Purn) DR TB Silalahi SH akan dijadikan objek wisata pendukung paket wisata terintegrasi antar tiga Kabupaten, Tapanuli Utara Tobasa Samosir. Untuk itu Bandara Silangit, Taput akan dikembangkan lagi agar bisa didarati pesawat jenis Boeing yang mengangkut wisatawan dari Singapura, Malaysia dan domestik.

Sesuai visi dan tujuannya, TB Silalahi Centre adalah sebagai pusat pelestarian nilai-nilai adat Batak sekaligus upaya membentuk karakter masyarakat utamanya generasi muda Batak agar benar-benar memiliki mental pekerja keras yang professional di berbagai sektor ekonomi yang ada di bona pasogit mulai pertanian, perikanan dan perindustrian terutama tenun ulos.

Di TB Silalahi Centre itu dibangun perpustakaan Batak, museum Batak indoor (ruang tertutup), museum Batak outdoor (ruang terbuka), rumah bolon Batak yang asli dan perkampungan Batak berisi rumah-rumah desa lengkap dengan peralatan-peralatan ekonomi masyarakat Batak di sekitar Danau Toba seperti alat pertanian, alat penangkap ikan, alat-alat tenun hingga senjata-senjata yang digunakan untuk berburu dan lain-lain.

Hal-hal inilah yang saya rasakan perlu untuk dilestarikan. Kalau saya sudah tidak ada lagi, tidak bisa saya menceritakannya kepada anak cucu orang Batak, jadi inilah (TBS Centre) yang menjadi catatan hidup sejarah dari nilai-nilai Batak. Supaya anak-anak cucu orang Batak khususnya dapat melihat bagaimana kampung Batak itu dahulu kala, ungkap TB Silalahi dengan nasda suara yang berat pada saat melakukan Ekspose TB Silalahi Centre di Desa Pagar Batu, Balige Jumat (16/11).

Hal lain yang menarik, di halaman depan kompleks TB Silalahi Centre juga dipajang helikopter militer jenis BO-106 yang sering digunakan Pak TB selama bertugas di TNI Angkatan Darat dan satu unit tank tempur jenis AMX-13 buatan Perancis yang dulu sempat digunakan pasukan militer Israel dan belakangan dibeli Indonesia memperkuat Batalyon Tank TNI AD dimana TB Silalahi tercatat sebagai Komandan Batalyon Tank pertama saat berpangkat Mayor.

Juga dibangun sebuah kafe terbuka yaang akan disediakan teropong, untuk melihat ke arah Tao Silalahi.

Pemaparan Ekspose dilakukan pengurus Harian TB Silalahi Centre dipimpin Ketua Harian Royal Pangaribuan. Pak TB yang didampingi stafnya Robert Myc membawa rombongan tamu dari Jakarta GM Immanuel Panggabean BBA (Pemred SIB), pengacara kondang Hotma Sitompul SH, Direktur Niaga PT PLN Ir Sunggu Aritonang, Wakil Pemred RCTI Atmaji S dan Tamam Husein (perancang, musik dan akustik) serta tamu lainnya. Juga dihadiri Bupati Taput Torang Lumbantobing, kepala Bappeda Taput Ir Saul Situmorang, Kadis Pariwisata Tobasa L Sibarani, Kadis Pendidikan Sitorus, Camat Balige dll. Rombongan TB Silalahi mendarat dengan pesawat eksekutif Trans Wisata jenis jet Fokker 28 di bandara Silangit atau lebih kurang 15 menit perjalanan dari Desa Pagar Batu.

Pada kesempatan itu Letjend (Purn) Tiopan Bernard Silalahi SH pun memaparkan motivasi yang melatarbelakanginya mendirikan TB Silalahi Centre sebagai pusat pelestarian budaya Batak dan juga Yayasan SMU Plus Soposurung di Balige sebagai pusat pendidikan anak-anak bona pasogit. TB Silalahi Centre dan SMU Plus Soposurung itu didirikannya atas amanat almarhum ibundanya agar memberikan hati sepenuhnya memperhatikan bona pasogit. “Almarhum ibu saya sejak awal meminta saya kuliah di ITB hingga menjadi insinyiur. Dia ingin saya menjadi kaya seperti adik saya Rio Tambunan dan juga teman saya Ir Gustav Panjaitan, tapi jiwa saya memang tidak terpanggil ke situ dan akhirnya masuk militer setelah meninggalkan ITB karena kekurangan biaya juga,” kisahnya.

Bahkan sampai berpangkat Kolonel pun ibundanya masih tetap menyesali TB meninggalkan bangku kuliah di ITB. “Setelah saya menjadi Kasdam berpangkat Brigadir Jenderal barulah beliau mengatakan, saya bangga kamu Silalahi pertama yang menjadi jenderal. Tidak lama kemudian, sebelum menghembuskan nafasnya di Semarang, ibu saya hanya berpesan, baen roham tu huta (berikan hatimu berikan ke kampung-red), itu saja pesannya. Jadi amanat ibu saya yang saya coba laksanakan,” ungkapnya.

TB muda hidup dalam kemiskinan pada saat pendudukan Jepang. Dulu kampung Pagar Batu yang didiami pak TB kecil bagaikan kampung mati, yang terdengar hanya suara sese (jangkrik-red) meskipun dikelilingi pemandangan yang indah di hamparan Danau Toba. “Jadi saya coba menyulap kampung ini. Secara keseluruhan kawasan Tapanuli yang mengelilingi Danau Toba itu adalah bona pasogit,” katanya.

Makanya pak TB mendirikan SMA Soposurung sejak tahun 1992. Sesudah berkiprah selama 15 tahun dibiayai, tamatan SMA Soposurung kini sudah banyak menjadi insinyiur dari ITB, dokter dan lain-lain. “Saya tidak jadi insinyiur tapi SMA Soposurung telah melahirkan puluhan insinyiur. Sesudah mereka insinyiur, saya panggil untuk membangun kampung ini,” katanya.

Jadi TB Silalahi Centre jelas pak TB murni diarsiteki dan dibangun oleh insinyiur ITB yang dulunya alumnus SMA Soposurung di antaranya Anggiat Sipayung ST, Heriani Napitupulu ST, Royal Pangaribuan ST dan Anjur Sagala ST. Anak-anak itu kata pak TB dulunya waktu masuk SMA Soposurung, masih SMP dan belum tahu apa-apa, kini sudah bisa merancang arsitek dan konstruksi TB Silalahi Centre.
Setelah mendirikan sekolah untuk pembangunan pendidikan anak-anak bona pasogit, melalui TB Silalahi Centre ini, pak TB mengaku mencoba melestarikan nilai-nilai seni budaya Batak. Dari kehadiran TB Silalahi Centre juga sedang dibangun teknologi pertanian dengan mencoba benih padi hibrida yang sudah ditanam di Balige dan akhir tahun 2007 siap panen. Dengan masa tanam empat bulan benih padi unggul itu bisa meningkatkan produksi padi hingga 3 kali lipat dari system pertanian konvensional.

Sarjana-sarjana pertanian sebelumnya dikirim pelatihan di pusat penelitian pertanian di Lampung yang didorong Wapres Jusuf Kalla. Kemudian benih padinya pun dibeli senilai Rp 150 juta dan diberikan TB Silalahi Centre untuk ditanam petani di sekitar Balige. “Kalau ini sudah berhasil, benih padi unggul itu pun bisa disuplai ke seluruh Pemkab di kawasan Tapanuli maupun daerah lainnya di luar Tapanuli untuk dicoba kembangkan untuk mengejar surplus beras,” ujarnya.

Yang patut disyukuri dan dibanggakan kata Pak TB adalah bahasa Batak termasuk dari 13 besar bahasa daerah yang masih tetap digunakan oleh sedikitnya 1 juta jiwa. Sesuai data nasional, dari 746 bahasa daerah yang ada di Indonesia sebanyak 733 bahasa daerah dikhawatirkan punah karena masyarakat pengguna bahasa itu sangat sedikit. “Yang kita syukuri bukan jumlah penggunanya 1 juta tapi ternyata generasi muda masih banyak yang menggunakan bahasa tersebut,” katanya.

Jadi TB Silalahi Centre lanjutnya didirikan bukan untuk sekedar gagah-gagahan atau untuk kegiatan politik. “Kalau aksi-aksian biasanya orang mendirikan di Jakarta, tapi ini kita dirikan di kampung halaman di Balige. Jadi tidak ada tujuan politik, orang Jakarta pun tidak kenal apa itu TB Centre,” katanya.

Di TB Silalahi Centre dibagi menjadi zona taman depan (entrance), zona gedung induk dan zona taman belakang). Zona gedung induk pun terbagi menjadi museum Batak indoor yang berisi peninggalan-peninggalan nenek moyang yang masih orisinil mulai tunggal panaluan, ulos yang berumur 200 tahun, pustaha, gelang, aksesoris dan pernak-pernik nenek moyang ratusan tahun lalu. “Kita juga mengimbau kepada penduduk, kalau mau menitip peninggalan-peninggalan warisan nenek moyangnya di museum ini,” ujarnya.

Masih di gedung induk juga ada juga ruangan perpustakaan yang akan diisi berbagai ragam buku dan tulisan-tulisan berbahasa Inggris, Belanda, Jerman dan berbagai negara yang pernah menulis tentang Batak jaman dulu. Di gedung induk juga ada museum pribadi TB Silalahi.yang berisi pakaian dan kepangkatan militer mulai Mayor hingga Letjend, mobil dinas militer maupun pribadi hingga kamar kerja pak TB.

Di gedung induk itu ada juga Convention Hall yang akan dijadikan gedung teater untuk pertunjukkan seni lengkap dengan system akustik ruangan yang meniru gedung teater di luar negeri, bahkan akan terbaik di Sumatera Utara. Convention Hall itu bisa menampung kurang lebih 500 orang sekaligus.

Kemudian sambil berjalan berkeliling ke TB Silalahi Centre para rombongan juga melihat di zona halaman belakang itu sedang dibangun rumah bolon dan zona perkampungan Batak yang akan diisi 6 unit rumah asli Batak yang dibeli dari masyarakat desa sekitar yang bersedia menjual rumahnya. Rumah-rumah ini akan dilengkapi dengan peralatan ekonomi masyarakat di kawasan Danau Toba mulai alat tangkap ikan, alat bertani, alat berkebun, senjata-senjata berburu hingga alat-alat industri tenun.

“Jadi kalau dia petani ada cangkul dan bajak sawahnya, kalau nelayan seperti orang Toba ada sampan dan jalanya di bawah rumah, kalau dia industri ada alat tenunnya. Di perkampungan itu juga akan dibuat kuburan batu. Pokoknya beginilah kehidupan orang Batak itu, saya masih alami waktu saya kecil,” jelasnya.
Di zona taman belakang itu juga akan diisi patung-patung meniru megalit asli Batak jaman dulu. Untuk membuat patung itu, TB Silalahi Centre mengirim ahli pahat di Balige yakni Jhonery Silalahi yang juga putra adik kandung TB Silalahi untuk mendalami seni pahat di Bali.

Menurut pak TB, konsep perkampungan mini Batak itu sudah ada dalam rencana para Bupati Tapanuli Utara beberapa tahun sebelumnya, tapi tak terealisasi hingga saat ini. Makanya konsep itu pun dilakukan pak TB menggunakan dana sendiri.

TB Silalahi Centre yang merupakan eks gedung pabrik air minum mineral PT Aeros berlokasi di Jalan Pagar Batu, Soposurung seluas 1,6 hektar juga akan dilengkapi halaman parkir luas, galeri, taman, cafe dan plaza tor-tor zona. Lokasi TB Silalahi Centre itu eks gedung pabrik minuman minera PT Aeros yang sudah berhenti operasi. Lokasi itu bisa jadi tempat rekreasi yang sangat hebat di Sumatera Utara yang dilengkapi kolam renang dan air pancuran alami dari gunung dengan pemandangan langsung ke Danau Toba.

Untuk operasional TB Silalahi Centre itu, pak TB mengaku mengeluarkan biaya Rp 30 juta per bulan untuk di luar biaya pembangunan konstruksi bangunan. Setelah resmi beroperasi nanti biaya yang dikeluarkan minimal Rp 60 juta per bulan. “Sementara SMA Soposurung setiap bulannya saya biayai Rp 80 juta per bulan. Makanya, untuk menutupi cost operasional sehari-hari, TB Silalahi Centre itu akan dibuka untuk kunjungan turis dengan membayar donasi berupa tiket masuk. Kalau saya masih hidup bisa dibiayai, tapi kalau seandainya sudah tidak ada lagi siapa yang membiayai ini,” ujarnya.

Dengan adanya perkampungan mini Batak itu kata Pak TB, para turis mancanegara maupun domestik bisa mengenal lebih dekat bagaimana sebenarnya perkampungan Batak asli lengkap dengan aktivitas kesehariannya tanpa harus bepergian jauh-jauh dan berpindah-pindah.

Seluruh zona yang ada di TB Silalahi Centre itu kata pak TB sudah bisa dibuka untuk umum setelah diresmikan bulan April 2008 mendatang. Kecuali museum pribadi TB Silalahi ditutup untuk turis dan hanya diperbolehkan untuk dikunjungi anak-anak SMP atau SMA karena tujuannya untuk memotivasi mereka agar memiliki cita-cita tinggi dan bekerja keras untuk menggapainya lewat pendidikan.
“Anak-anak SMP dari Tarutung misalnya, akan bisa melihat masa kecil saya dulu sangat miskin, pada jaman Jepang satu hari kadang-kadang tidak makan. Mereka juga bisa melihat TB Silalahi kecil dulu gembala kerbau tapi kok bisa dia seperti sekarang, karena sekolah. Orangtuanya tidak mampu menyekolahkan tinggi-tinggi tapi kenapa bisa masuk Akabri jadi jenderal bahkan jadi menteri. Banyak orang Batak yang sukses di Jakarta tapi keluarganya orang mampu, bagaimana anak-anak di Tapanuli ini yang keluarganya miskin-miskin bisa menjadi sukses nanti, itulah yang memotivasi mereka nanti” ujarnya.

Paket Wisata Terintegrasi
Dengan adanya TB Silalahi Centre itu nanti paket wisata di kawasan Danau Toba akan dibuat terintegrasi antar tiga Kabupaten yakni Tapanuli Utara Tobasa Samosir. Para turis dari Singapura dan Malaysia nantinya akan mendarat langsung di Bandara Silangit, kemudian dibawa ke Tapanuli Utara untuk mengunjungi Bukit Salib Kasih dan mandi air belerang. Mereka kemudian menginap semalam di Balige dan menyeberang kembali ke Pulau Samosir.

Karena itu pariwisata terintegrasi maka Dinas Pariwisata terkait di tiga Kabupaten dan agen-agen travel akan menyusun rencana paket-paket wisata yang akan dijual. Pak TB juga berjanji akan mendorong pengembangan Bandara Silangit agar dibangun gedung terminal penumpang umum lebih besar dan landasan pacunya dikembangkan agar bisa didarati pesawat jenis Boeing berkapasitas 100 lebih penumpang.

Pak TB menggambarkan, wisatawan yang datang ke Bali rata-rata mengeluarkan uang paling sedikit 1000 dollar AS selama tiga hari. Di negara Singapura, jumlah turis yang masuk malah bisa mencapai 10 juta setahun atau empat kali lipat dari jumlah penduduknya. “Kalau 1000 dollar kali 1000 orang saja sudah 1 juta dolar AS atau Rp 10 miliar. Bayangkan kalau para turis ini datang dan mengeluarkan rata-rata 1000 dolar saja kali 1000 wistawan termasuk biaya penginapan, sudah Rp 10 miliar devisa yang ditinggalkan di di tiga Kabupaten ini, paling sedikit itu” katanya.

TB Silalahi sendiri mengaku berdasarkan pengalamannya bepergian ke berbagai negara seperti Singapura, Mesir, Cina dan lain-lain objek wisata yang ditawarkan sebenarnya kalah dibandingkan dengan keindahan di bona pasogit ini dan pengunjungnya malah berjuta-juta setahun. Hanya saja di kawasan Danau Toba, infrastuktur kurang mendukung dan objek-objek wisata yang akan dilihat sangat minim.

About these ads